Sorot Nasional.com
Riski
Muna, Sultra – Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tenggara, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan, SE.,MBA, mendorong penguatan sektor pariwisata Sultra agar naik kelas dan punya daya saing nasional. Dorongan itu ia sampaikan langsung dalam Pertemuan dan Koordinasi Bersama Kementerian Kebudayaan RI di Jakarta, pada Selasa 15 April 2026.
Sebagai wakil daerah di DPD RI, Wa Ode Rabia punya tugas mengawasi dan mengawal aspirasi daerah ke pusat. Pada pertemuan tersebut, Rabia Al Adawia Ridwan terfokus pada: “Pariwisata Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal Sultra”.
Melalui pertemuan dan koordinasi bersama Kementerian Kebudayaan RI, Rabia Al Adawia Ridwan mendiskusikan lebih dalam berbagai aspirasi daerah terkait penguatan dan pengembangan sektor pariwisata di Sulawesi Tenggara.
Menurutnya, Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang luar biasa, sehingga berpeluang besar untuk menjadi salah satu destinasi unggulan Nasional bahkan Internasional.
Dalam pemaparannya, Wa Ode Rabia menyebut Sultra punya “harta karun” wisata yang belum semua orang tahu. Muna dengan wisata dan kekayaan budaya serta sejarah nya, Wakatobi dengan surga bawah lautnya sampai tradisi adat empat (4) pilar Sultra, Buton, Moronene, Tolaki dan Muna.
“Potensinya luar biasa. Tapi kalau hanya berhenti jadi wacana, wisatawan tidak akan datang. Kita butuh intervensi nyata dari pusat,” kata Wa Ode Rabia di hadapan jajaran Kementerian Kebudayaan RI.
Ia menekankan pendekatan pariwisata Sultra harus beda. Bukan cuma jual pantai dan laut, tapi juga cerita, nilai, dan identitas budaya yang melekat di setiap destinasi.
Wa Ode Rabia mendorong Kementerian Kebudayaan RI ikut mengawal event-event daerah agar dikemas lebih profesional. Contohnya Festival Liangkabori Kabupaten Muna, Karnaval Teluk Kendari, Festival Keraton Buton, dan Festival layang-layang tertua di dunia kaghati kolope di Muna.
Menurutnya, event budaya itu pintu masuk wisatawan. Kalau dikelola dengan konsep, promosi, dan kurasi yang tepat, efeknya bisa berantai ke UMKM, hotel, dan transportasi lokal.
“Kementerian Kebudayaan bisa jadi rumah besar untuk event daerah. Kita siap sinergi, supaya Sultra punya kalender wisata yang ditunggu nasional,” ujarnya.
Kolaborasi strategis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan pariwisata yang maju, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Semoga langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperluas potensi wisata Sulawesi Tenggara, memperkuat identitas budaya daerah, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui sektor pariwisata.
Soal akses, Wa Ode Rabia tidak menutup mata. Ia menyoroti penerbangan ke Wakatobi yang masih terbatas, jalan menuju destinasi wisata alam yang rusak, dan minimnya homestay berstandar.
Ia meminta Kementerian Kebudayaan RI berkoordinasi lintas kementerian. Supaya saat destinasi dipromosikan, jalannya juga bagus, listriknya nyala, dan internetnya lancar.
Selain itu, penguatan SDM pelaku wisata jadi perhatian. Wa Ode Rabia mengusulkan pelatihan pemandu wisata lokal, kursus bahasa asing dasar, dan pendampingan UMKM kuliner khas seperti sinonggi, kasuami, parende, dan ikan bakar colo.
“Wisata itu soal orang. Kalau orang lokalnya cakap, tamu pasti betah dan mau balik lagi,” tegasnya.






