Gajah Mati Meninggalkan Gading:Jejak Kita, Cermin Bangsa dan Warisan Keturunan

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SorotNasional.com
H. M.S. PELU, M.Pd.
_Pemerhati Sosial dan Budaya / Ketua Dewan Pembina & Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Sosial dan Budaya_

Sebuah pepatah klasik mengingatkan kita bahwa gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Namun di era modern, manusia mati meninggalkan rekam jejak. Bagi sebuah bangsa sebesar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jejak bukan sekadar catatan masa lalu yang berdebu di ruang arsip, melainkan cermin hidup yang akan menentukan ke mana arah peradaban kita berlayar.

Saat ini, kita berada di sebuah persimpangan zaman yang krusial. Di satu sisi, teknologi informasi telah meruntuhkan dinding-dinding pembatas. Tidak ada lagi ruang gelap yang benar-benar bisa menyembunyikan kebohongan. Apa yang hari ini coba ditutupi, dipelintir, atau dijalankan di luar koridor hukum demi kepentingan sesaat, esok hari pasti akan tersingkap terang benderang di bawah lampu sorot digital. Jejak digital dan catatan sejarah akan berbicara dengan jujur, telanjang, tanpa memandang seberapa tinggi jabatan pelakunya.

Di sisi lain, kita tengah memacu kendaraan bangsa menuju gerbang besar Indonesia Emas 2045 dan menjemput Bonus Demografi. Namun, kemegahan visi masa depan itu akan menjadi fatamorgana jika hulu pergerakannya—yaitu tindakan kita hari ini—digerogoti oleh hilangnya keteladanan, ketiadaan integritas, dan pengabaian terhadap nurani.

Baca Juga :  Bacadnas Kemhan Gelar Raker Ormas Bela Negara, Perkuat Sinergi dan Penegasan Legalitas

Every kebijakan, keputusan, dan perilaku yang diambil saat ini adalah investasi sejarah. Jika yang ditanam hari ini adalah kejujuran dan keadilan, maka anak cucu kita akan memanen kebanggaan. Sebaliknya, jika yang disemai adalah kecurangan, pengkhianatan terhadap amanah rakyat, serta pengrusakan tatanan hukum, maka generasi mendatanglah yang harus memikul beban utang moral dan rasa malu yang tak berkesudahan.

Sejarah telah memberi kita teladan abadi. Abad-abad lampau mencatat bagaimana Patih Gajah Mada, dengan segala keterbatasan teknologi pada zamannya, mampu menorehkan jejak sumpah dan kesetiaan yang melintasi waktu untuk menyatukan Nusantara. Cahaya penuntun itu tetap terang hingga hari ini karena fondasinya adalah ketulusan perjuangan, bukan ambisi pribadi. Maka, sungguh ironis jika kita yang hidup di era kemudahan tata kelola modern justru kerap tersandung oleh perilaku yang melanggar hukum dan mencederai kepercayaan publik.

Meniti amanah mengelola negara ini sejatinya laksana meniti buih di tengah lautan luas. Di permukaan mungkin tampak tenang dan penuh fasilitas kekuasaan, namun di bawahnya tersimpan arus deras tanggung jawab yang mengintai. Satu langkah yang salah, satu kebijakan yang manipulatif, tidak hanya akan menjatuhkan diri pelakunya sendiri, tetapi juga merugikan jutaan rakyat yang hak-haknya dititipkan di pundak para pemimpin.

Baca Juga :  PWI Bekasi Raya Tegakkan Profesionalisme Lewat Pembekalan UU Pers, KIP, dan ITE

Oleh karena itu, editorial ini menyerukan kepada seluruh elemen bangsa, dari strata kepemimpinan tertinggi hingga ruang-ruang terkecil di masyarakat: mari kita bangun kembali budaya keteladanan yang nyata. Pemimpin harus menjadi pihak yang paling berani menegakkan kebenaran dan paling takut melanggar aturan.

Kebaikan yang kita lakukan hari ini mungkin tidak langsung mendapat tepuk tangan, dan kebenaran mungkin sempat tertunda oleh riuh rendahnya intrik politik. Namun yakinlah, waktu tidak pernah menipu. Informasi kebaikan itu akan tampil megah di masa yang akan datang sebagai warisan luhur yang abadi. Begitu pun sebaliknya, keburukan akan bertransformasi menjadi noda hitam yang mencoreng peradaban.

NKRI dibayar oleh para pahlawan dengan harga nyawa dan air mata. Jangan biarkan tangan kita menjadi perusak persatuan tersebut. Mari melangkah dengan kepala tegak, hati bersih, dan komitmen tanpa batas. Biarlah sejarah mencatat bahwa kita adalah generasi yang merawat amanah dengan sebaik-baiknya, agar kelak ketika nama kita disebut oleh anak cucu di masa depan, ia mengalir bersama rasa hormat, doa, dan kebanggaan yang abadi.

Berita Terkait

Dewan Pers Akan Kumpulkan Seluruh Konstituen Bahas Penyelenggaraan Hari Pers Nasional
Open Tournament Bola Voli Piala Panglima TNI 2026 Resmi Ditutup
TNI-Kementerian PU Perkuat Sinergi Pengelolaan Sumber Daya Air
TNI-Polri Gelar Patroli Terpadu, Jaga Keamanan dan Kondusivitas Jakarta
Pemred Sorot News: Demokrasi Membutuhkan Jurnalisme Kritis yang Berpijak pada Akurasi dan Kepentingan Publik
Selembar Sertipikat Menjaga Amanah Tanah Wakaf
Groundbreaking Hunian Terjangkau, Ketua Satgas Perumahan RI Sampaikan Dukungan Sertipikasi Gratis bagi MBR dari Kementerian ATR/BPN
Berkontribusi dalam Pengembangan Geotermal di Indonesia, Kementerian ATR/BPN Dapat Penghargaan dari Kementerian ESDM
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:02 WIB

Open Tournament Bola Voli Piala Panglima TNI 2026 Resmi Ditutup

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:02 WIB

TNI-Kementerian PU Perkuat Sinergi Pengelolaan Sumber Daya Air

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:04 WIB

TNI-Polri Gelar Patroli Terpadu, Jaga Keamanan dan Kondusivitas Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:36 WIB

Pemred Sorot News: Demokrasi Membutuhkan Jurnalisme Kritis yang Berpijak pada Akurasi dan Kepentingan Publik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Selembar Sertipikat Menjaga Amanah Tanah Wakaf

Berita Terbaru