Tatap Kedepan dan Jangan Menoleh Kebelakang: Masa Depan Merupakan Hak “Neraka” atau “Surganya” Para Pemuda

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: H. M.S. Pelu, M.Pd.
Pemerhati Sosial dan Budaya | Lembaga Kajian Sosial dan Budaya

SorotNasional.com
Admin l

Kisah nyata yang menyentuh hati dan menggetarkan sanubari datang dari sebuah rumah sederhana di Klaten, Jawa Tengah. Seorang anak muda lulusan SMK bernama Mikail, membuktikan secara empiris bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah dinding mati yang mampu mengubur impian.

Meski sang ayah, Pak Sumarno, mengais rezeki sehari-hari sebagai seorang buruh tukang mengepel lantai dan ibunya, Bu Tiarti, adalah seorang penjual sayur keliling, takdir besar justru menghampiri ketekunan dan ketundukan spiritual mereka.

Begitu pengumuman resmi keluar dan menyatakan Mikail diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB)—sebuah kampus perjuangan dan salah satu universitas teknik terbaik di negeri ini—getaran emosional langsung menjalar hebat. Mikail seketika merinding, keluar keringat dingin, lalu bergegas lari menemui ibunya.

Di dalam dekapan hangat sang ibu yang berurai air mata bahagia, terselip sebuah tanya yang sempat membayangi benak polosnya: “Sanggupkah Bapak dan Ibu membiayai UKT-ku?”. Sebuah kekhawatiran manusiawi dari keluarga kecil yang menggantungkan hidup pada gagang pel dan bakul sayur.

Namun, jagat raya dan keadilan Tuhan bekerja melalui jalan-jalan yang indah. Bakat luar biasa Mikail yang ia tuangkan dalam lukisan pendaftarannya—sebuah karya seni tinggi bermediumkan gambar sayuran dan dua boneka lumpur yang secara filosofis menggambarkan determinasi serta tetes keringat kedua orang tuanya—mengetuk pintu hati otoritas tertinggi kampus.

Rumah sederhana mereka mendadak riuh dan dipenuhi tangis haru tetangga serta Pak RW Sugiyono ketika Rektor dan Dekan ITB datang langsung berkunjung ke Klaten. Di hadapan keluarga yang bersahaja itu, sang Rektor menegaskan sebuah kalimat yang sangat visioner: “ITB adalah rumah untuk semua”. Mikail tidak hanya berhak atas kursi kuliah, ia pun pulang membawa kebanggaan berupa kaos resmi FSRD ITB, siap menjemput masa depan yang gemilang.

Simfoni Peran Ibu dan Orang Tua: Generator Energi di Tengah Keterbatasan
Kisah Mikail ini seolah menyadarkan kita pada sebuah tesis sosial yang tak terbantahkan: di balik anak yang tangguh, ada doa ibu yang menembus langit dan dukungan orang tua yang tanpa jemu.

Baca Juga :  Setahun, Menteri Nusron Redistribusi 195.734 Bidang Tanah untuk 39.556 KK

Secara ilmiah, situasi ekonomi yang sulit (economic hardship) sering kali menjadi pemicu kerentanan psikologis anak. Namun, variabel pemutus lingkaran kemiskinan tersebut adalah parental support—kehadiran ibu dan ayah sebagai benteng emosional dan generator energi. Di dalam dasawisma, lingkungan PKK, sekolah, hingga ruang kerja, kita kerap menyaksikan bahwa ketahanan sebuah keluarga dan kesuksesan anak sering kali bermula dari ketangguhan seorang ibu yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Kepada para orang tua, rekan kerja, dan ibu-ibu penggerak masyarakat di seantero negeri, ketahuilah bahwa kemiskinan materiil tidak boleh menjadi alasan kemiskinan mental.

Ketika rumah kita dipenuhi dengan nilai-nilai moralitas, pelukan penyemangat, dan doa yang tulus, maka anak-anak kita akan tumbuh dengan Adversity Quotient (daya juang) yang tinggi. Restu dan air mata keikhlasan orang tua adalah modal utama bagi anak untuk melompati pagar pembatas kemiskinan.

Proteksi Diri Siswa-Siswi: Taat Beribadah dan Merdeka dari Narkotika
Bagi anak-anakku, para siswa-siswi generasi z dan milenial yang sedang meniti jalan belajar: masa depan tidak datang secara otomatis. Ia diperebutkan melalui pilihan-pilihan hidup hari ini. Pilihan itu nyata: menjadi “neraka” penyesalan akibat salah pergaulan, atau “surga” pencapaian yang membanggakan sekolah dan orang tua.

Di sinilah letak ujian krusial bagi pemuda. Pemuda yang akan memimpin bangsa adalah mereka yang keren secara intelektual, sekaligus matang secara spiritual.

Esensi Pemuda Berkarakter:

* Ketaatan Beribadah: Menjadi jangkar moral agar tidak limbung di era disrupsi digital dan media sosial.

* Menjauhi Hal Negatif: Cerdas memfilter pergaulan destruktif, bullying, dan budaya instan yang merusak masa depan.

* Komitmen Nol Persen Narkoba: Bersikap tegas menolak narkotika dan zat adiktif yang merupakan predator utama perusak saraf peradaban.

Secara sosiologis, remaja yang terjebak dalam lingkaran hitam narkotika dan kenakalan remaja telah menggadaikan haknya atas masa depan. Sebaliknya, kalian yang bersih, taat, dan disiplin diri, secara otomatis sedang membangun jalur ekspres menuju gerbang kesuksesan, tidak peduli apa pun latar belakang pekerjaan orang tua kita.

Baca Juga :  Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa di DPD RI: Raperda Penataan Ruang Provinsi Maluku Kian Matang

Kepedulian Umum dan Penguasaan IPTEK
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negeri yang sangat kaya raya. Kekayaan ini bukanlah warisan pasif, melainkan amanah Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk dikelola melalui penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Namun, IPTEK tanpa kepedulian sosial hanya akan melahirkan teknokrat yang serakah. Pemuda masa depan harus memiliki kepekaan terhadap kebaikan umum (bonum commune). Ketika seorang anak muda peduli pada nasib lingkungannya, aktif dalam organisasi, dan berorientasi pada solusi sosial, maka alam semesta akan membuka jalan-jalan kemudahan baginya untuk mengakses pendidikan tinggi.

Siapa pun kita—apakah kita anak dari seorang pedagang sayur, anak dari pekerja kasar, anak petani, anak tukang mengepel, atau siapa saja—jangan pernah merasa rendah diri. Di ruang kelas, di tempat kerja, maupun di lingkungan pertemanan alumni sekolah dan kuliah, mari kita bangun ekosistem yang saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.

Selama ada semangat juang yang menyala-nyala, keterampilan (skill) yang terus diasah, kepatuhan pada hukum Tuhan, setiap anak bangsa memiliki hak setara untuk tegak berdiri di mimbar kehormatan.

Seruan Heroik: Bergerak Bersama dari Rumah hingga Ruang Publik
Kepada rekan sejawat, sahabat lama, dan seluruh orang tua di Indonesia: teruslah memompa semangat anak-anak kita, didik dan siswa kita. Jadikan keterbatasan hari ini sebagai bahan bakar untuk membakar daya juang mereka, bukan sebagai alasan untuk menyerah.

Dan kepada wahai pemuda, siswa-siswi harapan bangsa, dengarlah panggilan zaman ini! Ayo kita bangkit bersama dengan semangat yang berkobar-kobar! Putuskan mata rantai keminderan. Berpegang teguhlah pada kebenaran spiritual, bentengi dirimu dari racun narkotika, asah potensimu demi kemaslahatan masyarakat luas.

Tatap lurus ke depan dan jangan menoleh ke belakang pada kemiskinan masa lalu! Mari kita, bersama komunitas PKK, institusi pendidikan, dan seluruh jejaring sosial kita, bergandengan tangan menyongsong masa depan Indonesia yang cerah, makmur, adil, dan gemilang!

Berita Terkait

Menjaga Uang Rakyat Rp131,5 Triliun: Jangan Sampai Dirampok Lagi di Meja Birokrasi!
Aturan Baru Beli Nomor HP Pekan Depan: Wajib Scan Wajah & Awas Bahaya “Telepon Hening”!
Menteri ATR/Kepala BPN dan Mendagri Keluarkan Surat Edaran, Integrasikan LP2B ke Dalam RTRW dan RDTR
Jeritan Lulusan Kedokteran yang Terhambat Mengabdi
Jeritan Hati Rakyat dan Ujian Integritas Para Pemimpin Kita: Di Balik Ironi “Lebih Baik Dijajah Lagi”
Jelang Hari Bhayangkara, Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur
Membasuh Luka, Menyemai Asa: Dialektika Humanis Menuju Indonesia Emas 2045
Mengapa Tambahan Anggaran Polri 2027 adalah Investasi Keamanan Milik Kita Bersama
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:13 WIB

Tatap Kedepan dan Jangan Menoleh Kebelakang: Masa Depan Merupakan Hak “Neraka” atau “Surganya” Para Pemuda

Kamis, 25 Juni 2026 - 09:00 WIB

Menjaga Uang Rakyat Rp131,5 Triliun: Jangan Sampai Dirampok Lagi di Meja Birokrasi!

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:49 WIB

Aturan Baru Beli Nomor HP Pekan Depan: Wajib Scan Wajah & Awas Bahaya “Telepon Hening”!

Selasa, 23 Juni 2026 - 11:14 WIB

Menteri ATR/Kepala BPN dan Mendagri Keluarkan Surat Edaran, Integrasikan LP2B ke Dalam RTRW dan RDTR

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:57 WIB

Jeritan Lulusan Kedokteran yang Terhambat Mengabdi

Berita Terbaru