sorotnasional.com
M.S. Pelu GB
MALUKU TENGAH – Tanah Maluku kembali mengukir sejarah perdamaian yang menggetarkan jiwa. Di bawah naungan langit Desa Kailolo, Kabupaten Maluku Tengah, pada Sabtu (17/1/2026).
Sebuah pertemuan agung yang mempertemukan para Raja dan tokoh adat dari Kepulauan Kei, Seram Bagian Timur (SBT), dan Kailolo berlangsung dengan khidmat.
Hadir di tengah-tengah momentum bersejarah ini, Ketua Umum DPP FPMM, H. Umar Key. Kehadirannya bukan sekadar tamu undangan, melainkan sebagai saksi sekaligus penggerak bangkitnya kembali ikatan genealogis yang selama ini terpisah jarak, namun tetap satu dalam aliran darah leluhur.
Kailolo: Titik Temu Persaudaraan Sejati
Pertemuan yang telah berlangsung sejak kemarin ini menjadi simbol rekonsiliasi sosial berbasis kearifan lokal. Para Raja duduk melingkar, meleburkan ego, dan mengedepankan dialog sebagai satu keluarga besar Maluku.
H. Umar Key dalam penyataannya menegaskan bahwa Kailolo memiliki nilai historis yang sakral sebagai titik temu persaudaraan. Ia percaya bahwa kekuatan adat adalah benteng terkuat dalam menjaga perdamaian di bumi Seribu Pulau.
“Kalau perasaan dan hati kita menyatu sebagai saudara, maka perbedaan apa pun bisa diselesaikan. Inilah nilai Maluku yang sejati, duduk bersama, makan nasi garam bersama, dan saling menjaga,” tegas Umar Key dengan nada penuh wibawa.
Beliau juga mengingatkan pentingnya mewariskan nilai-nilai ini kepada generasi muda agar api konflik tidak lagi punya ruang untuk menyala. “Dialog adat seperti ini adalah warisan. Kita harus pastikan anak cucu kita paham bahwa mereka lahir dari akar yang sama,” tambahnya.
Suara Hati Keluarga Besar
Dalam suasana penuh haru dan kekeluargaan, perwakilan keluarga besar menyampaikan harapan mendalam. Mereka menegaskan bahwa momentum ini harus menjadi perekat permanen bagi tali kekerabatan.
“Kami berharap pertemuan ini menjadi perekat tali kekerabatan dan kekeluargaan kita yang sempat merenggang oleh waktu. Ini bukan soal kepentingan pribadi atau golongan, melainkan demi kebahagiaan bersama dan masa depan generasi Maluku yang lebih gemilang,” ungkap salah satu perwakilan keluarga.
Pesan Persatuan dari Tanah Jawa untuk Maluku
Menutup rangkaian pertemuan tersebut, H. Umar Key memberikan pesan pamungkas yang sangat menginspirasi. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berhenti menoleh ke belakang pada luka lama dan mulai merajut masa depan yang lebih cerah.
“Mari kita menatap ke depan yang lebih baik. Buang semua ganjalan di hati, kita rajut kembali kain persaudaraan yang sempat koyak. Masa depan Maluku ada di tangan kita yang mau bersatu,” ajak Umar Key.
Pria yang dikenal vokal dalam memperjuangkan harkat orang Maluku di perantauan ini juga menceritakan bagaimana kerukunan telah tercipta di tanah rantau sebagai cermin bagi warga di Maluku.
“Baik-baiklah samua yang ada di Maluku. Di sana, di Tanah Jawa, beta (saya) juga sedang menghimpun kekerabatan kita. Bukan hanya katong Maluku, tapi juga saudara-saudara dari Maluku Utara, bahkan seluruh Indonesia Timur. Kami di sana hidup berdampingan dengan baik-baik saja, saling jaga dan saling asuh. Kalau kami di perantauan bisa, maka basudara di tanah kelahiran pun harus lebih bisa,” pungkasnya dengan penuh semangat.
Pertemuan di Kailolo ini diharapkan menjadi mercusuar bagi seluruh wilayah di Maluku bahwa penyelesaian masalah terbaik adalah dengan kembali ke “Meja Adat”, duduk sebagai orang basudara, dan menjaga Maluku tetap damai sebagai rumah bersama.










