sorotnasional.com
M.S. Pelu GB
Ambon, Maluku – Di ambang perayaan Natal tahun ini, pesisir Negeri Latuhalat, Kota Ambon, memancarkan cahaya yang lebih dari sekadar lampu hias. Masyarakat nelayan setempat menjadikan momen suci ini sebagai jembatan untuk mempererat kembali simpul-simpul persaudaraan dan toleransi antarumat beragama.
Melalui balutan acara “Berbagi Sukacita Bersama Masyarakat Nelayan Negeri Latuhalat” yang digelar pada 21 Desember 2025, warga berkumpul bukan hanya sebagai tetangga, tapi sebagai satu keluarga besar.
Mengusung tema puitis nan bermakna, “Natal sebagai Momentum Merajut Tali Persaudaraan Antar Umat Beragama Par Ambon, Maluku Deng Indonesia Pung Bae”, perayaan ini seolah mengingatkan kita bahwa Natal bukan sekadar ritual di dalam rumah ibadah. Ia adalah nafas kemanusiaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Dukungan hangat pun mengalir dari Pemerintah Provinsi Maluku. Kehadiran negara di tengah deru ombak dan peluh para nelayan menjadi simbol bahwa mereka—sang tulang punggung ekonomi dan penjaga harmoni—tidak berjalan sendirian.
Ketua Umum DPP KAMENAM Maluku, Burhanudin Rumbauw, dengan penuh ketulusan menyampaikan bahwa Natal adalah cermin untuk melihat sejauh mana solidaritas kita telah tumbuh tanpa tersekat oleh perbedaan keyakinan.
“Natal bukan hanya milik umat Kristiani, tapi milik kita semua yang percaya pada nilai kasih dan kebersamaan. Di Latuhalat, kita melihat bagaimana para nelayan saling menjaga, membuktikan bahwa perbedaan adalah warna yang memperindah persaudaraan kita,” ungkapnya.
Baginya, masyarakat nelayan adalah penjaga gawang kerukunan di tanah Maluku yang multikultural. Senada dengan itu, Jovandri Aditya Kalaimena selaku Koordinator Kegiatan, memandang acara ini sebagai ruang perjumpaan hati. Ia ingin semangat hidup orang basudara yang menjadi urat nadi masyarakat Maluku tetap berdenyut kencang melalui momen-momen inklusif seperti ini.
“Kami merindukan suasana di mana setiap orang, tanpa terkecuali, merasa diterima dan dihargai. Dari Latuhalat, kami mengirimkan pesan untuk Indonesia: bahwa keberagaman bukanlah beban, melainkan kekuatan yang menyatukan,” tutur Jovandri dengan penuh harap.
Acara yang juga diwarnai dengan aksi sosial bagi para nelayan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Maluku, dengan sejarah panjangnya yang penuh warna, telah berhasil menjadikan toleransi sebagai pondasi hidup. Negeri Latuhalat kini berdiri tegak sebagai bukti nyata bahwa adat, agama, dan budaya bisa berjalan beriringan dalam damai, pungkasnya.










