sorotnasional.com
M.S. Pelu GB
AMBON, MALUKU – Kota Ambon mengawali tahun 2026 dengan catatan gemilang di sektor pembangunan manusia. Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melaporkan bahwa angka stunting di wilayahnya menyusut tajam hingga menyisakan 282 kasus di sepanjang tahun 2025.
Angka ini merupakan rekor terendah sejak tahun 2021, menandai keberhasilan integrasi program gizi, kesehatan, dan pendidikan yang masif.
Sinergi Tim dan Partisipasi Aktif Masyarakat
Wakil Walikota Ambon, Elly Toisuta, menekankan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar hasil kerja di atas kertas, melainkan buah dari militansi tim di lapangan dan respons positif warga yang luar biasa.
“Keberhasilan menurunkan angka stunting ini tidak terlepas dari semangat tinggi masyarakat dalam mengikuti setiap arahan dan pendampingan dari tim kami di lapangan.
Tanpa keterbukaan warga untuk mengadopsi pola hidup sehat dan proaktif dalam pemantauan gizi, intervensi pemerintah tidak akan mencapai hasil maksimal yang kita lihat hari ini,” ujar Elly saat dihubungi pada Senin (12/1/2026).
Evolusi Kesadaran Kesehatan Keluarga
Senada dengan hal tersebut, Walikota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menilai pencapaian ini sebagai cerminan dari kemajuan sosial masyarakat Ambon.
Menurutnya, penurunan angka stunting hingga ke titik terendah dalam lima tahun terakhir adalah hasil yang wajar dari meningkatnya kesadaran kolektif warga.
“Ini adalah suatu hal yang wajar mengingat pola pikir masyarakat Kota Ambon sudah semakin berkembang akan pentingnya meningkatkan kualitas kesehatan keluarga.
Kesadaran bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang telah mengakar kuat dalam setiap rumah tangga,” ungkap Bodewin.
Data Komparatif dan Capaian Strategis
Keberhasilan ini didukung oleh penguatan akses layanan dasar yang mencapai puncaknya di tahun 2025. Berikut adalah tabel perbandingan yang memperkuat narasi kemajuan tersebut:
* Indikator Capaian Tahun 2021 (Baseline) Tahun 2025 (Capaian Terbaru) Tren/Status.
* Jumlah Kasus Stunting Data Awal Tinggi, saat ini 282 Kasus Menurun Signifikan.
* Cakupan Kesehatan (UHC) ~88% 98,65% Hampir Menyeluruh.
* Penerima Makan Bergizi Tahap Inisiasi 46.909 Siswa Ekspansi Masif.
* Indeks Literasi Pelajar Standar Meningkat Pesat Sangat Positif.
Korelasi Literasi dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menutup pernyataannya, Bodewin Wattimena menyoroti kaitan erat antara sektor pendidikan, literasi, dan ketahanan gizi sebagai kunci keberlanjutan prestasi ini di masa depan. Beliau melihat bahwa kecerdasan masyarakat dalam menyerap informasi menjadi motor penggerak utama perubahan perilaku.
“Dengan telah bertambahnya minat literasi pelajar, otomatis capaian positif sektor pendidikan menjadi lebih meningkat. Terlebih sebanyak 46.909 siswa di Kota Ambon telah menerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis, tentunya ke depan angka stunting akan lebih menurun lagi,” pungkasnya.










