Sorot Nasional.com
Riski
MUNA, Sultra – Sulawesi Tenggara kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah hasil penelitian tentang lukisan perahu bercadik prasejarah di Konawe Utara dan Pulau Muna resmi dipublikasikan dalam jurnal internasional Rock Art Research tahun 2026.
Temuan ini mengungkap bahwa masyarakat masa lalu di wilayah Sulawesi Tenggara telah memiliki teknologi pelayaran yang maju dan menjadi bagian penting dari tradisi maritim Austronesia yang menyebar luas di kawasan Asia Tenggara.
Penelitian yang dipimpin oleh M. Sabri bersama tim peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset menemukan sejumlah motif perahu bercadik pada dinding gua prasejarah di Pegunungan Karst Matarombeo, Konawe Utara, serta Kompleks Liang Kabori di Pulau Muna.
Motif-motif tersebut menunjukkan keberadaan perahu bercadik tunggal maupun bercadik ganda yang menggambarkan kemampuan teknologi pelayaran masyarakat pada masa lampau.
Temuan ini menjadi sangat penting karena bukti fisik perahu kuno yang terbuat dari kayu sangat jarang bertahan hingga sekarang. Karena itu, lukisan cadas menjadi sumber informasi berharga untuk memahami bagaimana nenek moyang bangsa Indonesia mengembangkan teknologi pelayaran dan melakukan perjalanan antarpulau sejak ribuan tahun lalu.
Saat dihubungi pada 13 Juni 2026, peneliti utama M. Sabri mengatakan bahwa hasil penelitian ini membuktikan Sulawesi Tenggara memiliki warisan budaya maritim yang luar biasa dan layak mendapat perhatian lebih luas.
“Lukisan perahu bercadik yang ditemukan di Konawe Utara dan Pulau Muna menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah memiliki pengetahuan maritim yang maju. Ini menjadi bukti bahwa Sulawesi Tenggara memiliki peran penting dalam sejarah pelayaran dan persebaran budaya Austronesia di kawasan Asia Tenggara,” ujar M. Sabri.
Menurutnya, hasil penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa masyarakat prasejarah Sulawesi Tenggara bukanlah kelompok yang terisolasi, melainkan komunitas yang memiliki kemampuan berlayar, memanfaatkan sumber daya laut, dan menjalin hubungan dengan wilayah lain melalui jalur perairan.
M. Sabri berharap publikasi internasional ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat untuk semakin memperhatikan upaya pelestarian situs-situs prasejarah yang tersebar di Sulawesi Tenggara.
“Warisan budaya ini bukan hanya milik daerah, tetapi juga bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia dan peradaban maritim dunia. Karena itu perlu dijaga dan dilestarikan bersama,” tambahnya.
Publikasi penelitian ini semakin mempertegas bahwa Sulawesi Tenggara tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menyimpan jejak peradaban maritim kuno yang memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan dunia.
Temuan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Tenggara karena menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari perjalanan besar sejarah kemaritiman Nusantara.






