Sorot Nasional.com
Reporter
Muna, Sultra – Polemik penggunaan panggilan PYM, YM, dan Raja kembali memicu perdebatan luas. Persoalan ini menyita perhatian publik, mulai dari lembaga adat, tokoh masyarakat, hingga warganet yang saling beradu argumen di media sosial.
Menanggapi hal itu, Agus Minardi, salah satu pemuda penggiat budaya Muna, menyampaikan kritik tajam. Ia menilai polemik tersebut tidak akan selesai jika hanya berhenti pada komentar tanpa ada tindakan nyata untuk menjaga adat dan budaya.
“Hanya tahu komentar tanpa berbuat. Itu ke”bodoh”an yang ditutupi kalimat ke-an,” tegas Agus Minardi saat ditemui di Muna, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Agus, gelar Paduka Yang Mulia, Yang Mulia, dan Raja bukan sekadar sebutan. Gelar itu membawa tanggung jawab sejarah, moral, dan pengabdian kepada masyarakat adat yang harus dijaga kehormatannya.
Ia menyoroti banyak pihak yang paling keras bersuara di dunia maya soal panggilan itu, namun tidak terlihat kiprahnya dalam kegiatan adat.
“Kalau cinta budaya, buktikan dengan kerja. Bukan hanya pintar berkomentar,” ujarnya.
Agus menilai, polemik ini muncul karena adanya pencampuradukan antara pelestarian budaya dengan kepentingan pencitraan. Akibatnya, makna gelar menjadi kabur dan berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.
Yang dimaksud “kalimat ke-an” adalah kalimat “kebodohan”. Menurutnya, ada pihak yang menutupi kebodohan dan minimnya pemahaman tentang adat dengan merangkai kata-kata agar terdengar bijak. Padahal isinya “kosong” tegasnya.
Agus kembali menegaskan bahwa “melarang atau membatasi orang lain untuk memberikan apresiasinya kepada yang dianggap wajar disebut PYM, YM atau Raja karena bukti nyata perlakukan nya untuk membesarkan adat dan budaya itu merupakan “kemunafikan,” terang Agus.
Sebagai penggiat budaya, Agus mengajak semua elemen untuk duduk bersama. Lembaga adat, akademisi, pemerintah, dan masyarakat perlu membuat kesepakatan jelas terkait pakem penggunaan gelar agar tidak terus menjadi bahan polemik.
Di akhir pernyataannya, Agus menegaskan ia tidak anti kritik. Namun kritik harus diimbangi aksi nyata. “Jangan sampai energi kita habis untuk memperdebatkan siapa yang berhak dipanggil Raja, sementara tugas menjaga adat dan mendidik generasi justru kita lupakan dan jangan trus kita memelihara otak jongkok akut,” pungkasnya.
Menutup pernyataan nya, Agus menghimbau agar jangan suka membuat hal-hal yang bentuknya pembohongan publik dengan mengeluarkan kalimat diancam kekerasan padahal itu tidak pernah terjadi.






