Sorot Nasional.com
Riski
KENDARI, Sultra – Universitas Halu Oleo (UHO) melalui Fakultas Ilmu Budaya (FIB) resmi menancapkan tonggak sejarah baru dalam dunia riset humaniora di Sulawesi Tenggara (Sultra). Memasuki tahun akademik 2026/2027, Jurusan Antropologi FIB UHO bergerak masif dengan menyambut 10 mahasiswa perintis pada Program Studi Magister (S2), sekaligus mengawal keberlanjutan Program Studi Sarjana (S1) yang dihuni oleh 90 mahasiswa baru.
Langkah paralel ini menjadi strategi besar kampus untuk mendongkrak riset humaniora, membedah kekayaan budaya maritim, serta mengkaji dinamika masyarakat pedalaman di wilayah Sultra. Orientasi akademik dan penyambutan mahasiswa baru ini dikawal langsung oleh Dekan FIB UHO Prof. Dr. Akhmad Marhadi, S.Sos., M.Si., Ketua Jurusan Antropologi Dr. Erens Elvanius Koodoh, S.Sos., M.Si., Ketua Prodi S2 Antropologi Dr. La Ode Aris, S.Sos., M.A., serta Ketua Prodi S1 Antropologi Raemon, S.Sos., M.A.
Membangun Ekosistem Riset Terintegrasi
Dalam keterangan resminya pada Jumat (14/8), Ketua Jurusan Antropologi FIB UHO, Dr. Erens Elvanius Koodoh, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa kehadiran program magister yang baru berdiri ini dirancang untuk berjalan beriringan secara organik dengan program sarjana guna membangun ekosistem akademik yang solid.
“Kami di tingkat jurusan berkomitmen penuh untuk menyediakan ekosistem riset terbaik. Fokus utama kami saat ini adalah mengintegrasikan studi antara jenjang Sarjana (S1) dan Magister (S2). Dengan kontinuitas ini, kesinambungan riset mengenai kebudayaan lokal akan jauh lebih mendalam, terukur, dan memiliki cetak biru (blueprint) yang jelas,” ujar Dr. Erens.
Lebih lanjut, Dr. Erens menjelaskan adanya benang merah visi yang kuat untuk menonjolkan keunggulan spesifik dari Jurusan Antropologi UHO, baik pada level sarjana di bawah komando Raemon, S.Sos., M.A., maupun level magister di bawah kepemimpinan Dr. La Ode Aris, S.Sos., M.A. Jurusan ini ditargetkan menjadi program studi yang unggul dan inovatif dalam pengembangan ilmu antropologi yang berfokus pada dinamika masyarakat dan kebudayaan pesisir, kelautan, dan perdesaan.
“Penonjolan visi ini menjadi ruh utama, baik untuk jenjang S1 yang tahun ini menerima 90 orang mahasiswa, maupun jenjang S2 dengan 10 orang mahasiswa perintisnya. Kami ingin lokalitas kita bernilai global,” tambah Dr. Erens.
Kehadiran 10 mahasiswa perdana program S2 ini diharapkan menjadi motor penggerak sekaligus pemantik semangat bagi 90 mahasiswa baru di jenjang sarjana agar terus konsisten melanjutkan studi akademiknya langsung di daerah sendiri.
Sebagai program studi baru, S2 Antropologi FIB UHO hadir dengan keunggulan kurikulum yang sangat relevan dengan konstelasi lokal, mencakup kajian antropologi maritim dan kompleksitas sosial kontemporer kawasan pesisir yang adaptif menghadapi disrupsi zaman.






