SorotNasional.com
M.S Pelu GB
Ambon, Maluku — Keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tidak pernah berdiri di atas fondasi tunggal kekuatan penegakan hukum. Ia lahir dari rajutan emosional, spiritual, serta kesadaran kolektif antara aparat negara dan rakyatnya. Menyadari hakikat kriminologi sosial tersebut, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si., menginisiasi langkah heroik yang meruntuhkan sekat-sekat birokrasi: merajut keamanan dari saf-saf masjid melalui safari Salat Subuh Berjamaah.
Bukan sekadar kewajiban ritual keagamaan, kehadiran pimpinan tertinggi Kepolisian Daerah Maluku di tengah-tengah warga saat fajar menyingsing merupakan perwujudan dari community policing (pemolisian masyarakat) berbasis pendekatan sosiokultural dan spiritual. Dari mihrab dan mimbar masjid, ruang dialog interaktif yang egaliter dan penuh kehangatan humanis tercipta tanpa jarak.
Secara ilmiah, pendekatan pengamanan berbasis komunitas ini terbukti efektif menurunkan potensi benturan sosial dan kejahatan (crime prevention). Integrasi antara nilai-nilai keimanan, moralitas, serta pranata lokal seperti kearifan Pela Gandong dan semangat Potong di Kuku Rasa di Daging menjadi modal sosial (social capital) yang sangat tangguh dalam membentengi masyarakat dari ancaman disintegrasi, isu hoaks, maupun provokasi yang merusak harmonisasi.
Dalam tatap muka dan dialog hangat bersama para tokoh agama serta jamaah usai salat, Kapolda Maluku menegaskan komitmen institusinya untuk terus bertransformasi menuju Polri yang makin Presisi, transparan, dan berorientasi penuh pada pengabdian tulus bagi kemanusiaan. Kehadiran Polri di tengah subuh yang dingin menjadi simbol keteladanan—bahwa pengayom masyarakat hadir menjaga kedamaian bahkan sebelum roda aktivitas warga berputar.
Langkah humanis dan visioner ini mendapat apresiasi mendalam dari masyarakat luas. Sinergi yang terbangun di atas fondasi spiritualitas dan persaudaraan sejati ini diyakini mampu membawa Maluku menjadi wilayah yang aman, damai, dan berkemajuan.
“Membangun keamanan tidak cukup hanya dengan tindakan penegakan hukum di lapangan, melainkan harus dimulai dari sentuhan kehangatan nurani, penguatan benteng moralitas, serta keterlibatan aktif seluruh komponen masyarakat. Ketika silaturahmi terjalin kokoh dari rumah-rumah ibadah, maka kedamaian yang sejati akan berakar kuat di tanah Maluku ini,” Pungkasnya.






