SorotNasional.com
Reporter/Riski
KENDARI, Sultra – Menanggapi pernyataan miring dari Saudara La Ode Muhammad Rabiali di media massa yang menyerang pribadinya dengan kata “bodoh” dan tuduhan “pembalikan sejarah” pasca-dialog di RRI Kendari, Yang Mulia (YM) La Ode Riago, S.H., Sangia Kobenteno akhirnya angkat bicara. Bukannya membalas dengan makian serupa, YM. La Ode Riago, S.H., Sangia Kobenteno justru memberikan jawaban yang meneduhkan dan mengajak semua pihak mengutamakan adab.
“Saya tidak pernah sembarangan berbicara di ruang publik, apalagi menyangkut sejarah sakral leluhur tanah Muna. Gelar akademik seharusnya melahirkan kearifan yang memperhalus tutur kata, bukan menjadi tameng kesombongan intelektual untuk mengerdilkan orang lain. Di atas ilmu itu ada adab,” ujar La Ode Riago dengan tenang.
La Ode Riago menilai tuduhan anakronisme (salah zaman) yang dilayangkan oleh Sdr. Rabiali terkait penyebutan rentang waktu hanyalah sebuah salah paham akibat asal menyerang tanpa meneliti konteks.
Dirinya meluruskan bahwa angka “74” yang sempat diiyakan dalam tanya jawab dengan host RRI Kendari sebenarnya merujuk pada rentang waktu historis internal kerajaan, yaitu sekitar tahun 1740-an, bukan tahun 1974 era modern (resettlement).
“Pemikiran Saudara Rabiali-lah yang melompat terlalu jauh melintasi abad hingga ke tahun 1970-an. Sangat disayangkan seorang kandidat doktor justru memakai makian personal di ruang publik,” sesalnya.
Dalam memaparkan sejarah, La Ode Riago menegaskan memiliki pilar data yang sangat terpercaya, salah satunya bersumber langsung dari tokoh adat dan budaya Muna, La Ode Hibali. La Ode Hibali merupakan keturunan garis lurus langsung (cucu) dari Raja Muna XIV, La Ode Huseini atau yang dikenal dengan gelar Omputo Sangia.
Ketika Sdr. Rabiali mencaci pemaparan tersebut, La Ode Riago mengingatkan bahwa tindakan itu secara tidak langsung telah merendahkan kesucian ingatan sejarah tutur lisan yang dijaga ketat oleh keluarga turunan Omputo Sangia.
Menanggapi kegaduhan ini, La Ode Hibali pun turut memberikan pernyataan sikap yang bijak namun menohok:
“Kalau ada data yang menurut kamu benar, silakan sampaikan sumbernya dari mana. Jangan sampai data yang kamu agung-agungkan itu hanya hasil kutipan dari internet! Saya mendapatkan cerita langsung dari orang tua kakek saya yang merupakan keturunan langsung Omputo Sangia, tokoh yang memindahkan pusat kerajaan Muna dari Kotano Wuna ke Fotuno Sangia,” tutur La Ode Hibali.
La Ode Hibali menambahkan bahwa perpindahan tersebut sempat gagal akibat serangan nyamuk yang menyebabkan banyak korban sakit, sebelum akhirnya berpindah ke wilayah Wasolangka hingga melahirkan gelar Omputo Sangia.
Di akhir pernyataannya, La Ode Riago, S.H., mengajak seluruh masyarakat, khususnya rumpun Wuna, untuk menyudahi kegaduhan yang tidak produktif ini dengan hati yang lapang. Ia menekankan bahwa membicarakan sejarah leluhur bukanlah panggung untuk merasa paling pintar.
“Kekhilafan dalam bertutur kata adalah tabiat manusia, namun memperbaikinya dengan keluhuran budi adalah jalan para ksatria. Pintu silaturahmi dan ruang diskusi ilmiah yang sehat selalu terbuka lebar, agar energi kita sebagai sesama anak bangsa dapat bersatu padu membangun daerah,” pungkas Sangia Kobenteno.






