sorotnasional.com
M.S. Pelu GB
AMBON, MALUKU – Isu sampah yang selama ini menjadi tantangan klasik perkotaan di Indonesia, perlahan mulai terurai di tangan Penjabat Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, dan Wakil Wali Kota, Ely Toisutta.
Dalam sepuluh bulan kepemimpinan, duet ini berhasil mencatatkan capaian impresif: 61.913,21 ton sampah berhasil dikelola dengan sistem yang jauh lebih modern dan terintegrasi.
Langkah strategis ini bukan sekadar pembersihan rutin, melainkan sebuah revolusi tata lingkungan. Mulai dari pemasangan trash boom di aliran sungai, aksi bersih Teluk Ambon, hingga modernisasi armada dengan penambahan 8 unit dump truck, compactor, dan ekskavator terbaru.
Kolaborasi dan Ekonomi Sirkular
Saat dikonfirmasi mengenai kunci keberhasilan ini, Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, menekankan bahwa pendekatan pemerintah kini tidak lagi hanya “buang pada tempatnya,” tetapi “ubah menjadi nilai.”
Kami tidak ingin melihat sampah sebagai beban, tapi sebagai sumber daya. Melalui kerja sama dengan Bank Sampah Induk Bumi Lestari, kami mendorong ekonomi sirkular.
“Pesan saya untuk masyarakat sederhana: sampahmu adalah tanggung jawabmu, tapi di tangan yang kreatif, ia bisa jadi rezekimu. Jika kita kompak, Ambon Manise bukan cuma slogan, tapi kenyataan yang kita hirup udaranya setiap hari,” ujar Ely Toisutta dengan nada optimis.
Transformasi Infrastruktur: Dari Terbuka Menjadi Terkontrol
Tidak hanya di hulu, pembenahan di hilir pun dilakukan secara radikal. Pemkot Ambon resmi meninggalkan sistem open dumping (sampah terbuka) di TPA dan beralih ke sistem controlled landfill yang jauh lebih ramah lingkungan. Selain itu, 19 titik pengumpulan higienis dan 50 unit waste bin modern telah disebar untuk memastikan estetika kota tetap terjaga.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, saat diminta tanggapannya mengenai visi besar di balik program ini, memberikan pesan yang mendalam bagi warganya sekaligus menjadi inspirasi bagi para kepala daerah di Indonesia.
“Kepemimpinan adalah soal keberanian mengeksekusi solusi pada masalah yang paling mendasar. Kami berinvestasi pada infrastruktur, tapi investasi terbesar kami adalah pada perubahan perilaku masyarakat.
Kepada rekan-rekan kepala daerah, mari kita jadikan isu lingkungan sebagai prioritas, bukan pelengkap. Karena kota yang hebat bukan dilihat dari gedung pencakar langitnya, melainkan dari bagaimana ia memuliakan alamnya,” ungkap Bodewin.
Sebagai penutup, Bodewin memberikan sebuah pesan pencerahan yang menggugah kesadaran kolektif:
“Kebersihan kota adalah cermin martabat penghuninya. Mari kita jadikan pengelolaan sampah sebagai ibadah sosial, di mana setiap plastik yang kita pilah adalah warisan keasrian bagi anak cucu kita di masa depan. Sebab, kota yang bersih adalah kota yang memiliki jiwa, dan jiwa yang sehat lahir dari lingkungan yang terjaga pencerahannya,” pungkasnya.










