SorotNasional.com
M.S Pelu GB
AMBON, Maluku — Kemanusiaan sejatinya tidak pernah mengenal garis batas peta maupun batas wilayah administratif. Ketika duka menimpa saudara sesama anak negeri di Dusun Patahuwe, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), empati mendalam ditunjukkan oleh Pemerintah Kota Ambon di bawah kepemimpinan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena — yang akrab disapa Pak Win.
Kehadiran Pak Win dan jajaran Pemkot Ambon di tengah-tengah warga terdampak konflik bukan sekadar aksi penyaluran bantuan sosial. Langkah tersebut merupakan manifestasi nyata dari jiwa heroik, kepedulian humanis, dan komitmen moral untuk merawat persaudaraan sejati di bumi Moluccas.
Konflik kemanusiaan yang menimpa Dusun Patahuwe telah mengakibatkan 27 rumah hangus terbakar, memaksa 41 Kepala Keluarga atau sebanyak 142 jiwa kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi di Desa Taniwel. Di tengah situasi krisis dan beban psikologis yang berat, uluran tangan dari Kota Ambon menjadi berkas cahaya yang memberi harapan.
Apresiasi Tokoh Masyarakat SBB: Kemanusiaan Melampaui Batas
Langkah responsif Pak Win mendapat apresiasi mendalam dari Tokoh Masyarakat Seram Bagian Barat, Marsel Maspaitella, S.H. Dengan nada haru dan bangga, Marsel menegaskan bahwa kepedulian Wali Kota Ambon merupakan teladan kepemimpinan yang berhati nurani.
“Dangke banya Kaka Bodewin. Kaka su lia katong pung basudara di Patahuwe yang sedang susah. Ini bukan sekadar bantuan material, melainkan bukti nyata tentang rasa kemanusiaan dan kepedulian mendalam sebagai orang basudara,” ungkap Marsel Maspaitella.
Marsel menyoroti bagaimana Pak Win tidak membiarkan sekat administratif membatasi rasa kepedulian. Secara tata negara, Patahuwe berada di bawah naungan Kabupaten SBB, namun secara kultur dan ikatan batin, seluruh warga Maluku adalah satu keluarga besar.
“Batas kewenangan pemerintahan tidak menjadi penghalang bagi Kaka Bodewin untuk hadir membantu warga yang sedang mengalami musibah. Ketika basudara pung rumah terbakar dan harus mengungsi, katong tidak bisa tinggal diam. Dalam semangat orang basudara dan gandong, ketika saudara kita tertimpa duka, kita tidak boleh bertanya soal batas wilayah terlebih dahulu,” tegas Marsel.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya pemulihan pascakonflik, terutama perlindungan dan pemulihan trauma bagi anak-anak agar dapat kembali bersekolah dengan aman. Marsel berharap keteladanan yang ditunjukkan Pak Win dapat memantik gelombang solidaritas dari berbagai pihak lainnya.
Pesan Kemanusiaan dan Nasehat Pak Win: Menabur Kedamaian, Memetik Hikmah, dan Bangkit Menjadi Insan Bijak
Di hadapan warga dan masyarakat, Pak Win menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang sejuk, menguatkan, sekaligus membakar semangat persatuan. Beliau mengajak seluruh warga untuk menyikapi cobaan ini dengan kedewasaan jiwa dan kelapangan dada.
Pak Win menegaskan bahwa musibah yang terjadi harus dijadikan momentum untuk perenungan bersama (kaji diri), melupakan hal-hal yang tidak mendidik, serta memupuk kedamaian di dalam hati:
Mengambil Hikmah dan Menjaga Kedamaian Hati:
“Setiap ujian hidup yang kita jalani pasti menyimpan hikmah yang besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai ajakan untuk introspeksi, melupakan prasangka dan hal-hal yang kurang mendidik yang hanya memecah belah. Cara terbaik untuk menyembuhkan luka adalah dengan mengisi hati kita dengan kedamaian, ketulusan, serta mengingat setiap kebaikan yang telah ditunjukkan oleh orang lain kepada kita.”
Fokus Masa Depan dan Bangkit Maju:
“Kita tidak boleh membiarkan diri kita terus terpuruk dalam trauma dan masa lalu yang kelam. Anak-anak kita membutuhkan masa depan, rasa aman, dan pendidikan yang layak. Mari kita bangkit bersama, tempa diri menjadi insan yang lebih bijak, dan membuktikan bahwa masyarakat Maluku adalah masyarakat yang tangguh dan penuh kasih sayang.”
Merawat Ingatan Akan Kebaikan:
“Ketika kita fokus mengingat kebaikan sesama dan saling menopang di masa sulit, maka kebencian akan sirna dengan sendirinya. Mari kita ajarkan kepada anak-cucu kita pentingnya saling memaafkan dan mengasihi, sehingga perdamaian yang hakiki dapat tumbuh subur di tanah ini.”
Penutup: Baku Kele, Baku Keku menuju Maluku Maju Berbasis Pela Gandong
Mengakhiri kunjungannya, Pak Win menyampaikan ajakan hangat dan menggugah kepada seluruh elemen masyarakat di Seram Bagian Barat maupun di seluruh penjuru Maluku untuk mempererat tali silaturahmi.
Beliau menyerukan pentingnya budaya baku kele (saling merangkul) dan baku keku (saling memikul beban) sebagai pilar utama dalam membangun kembali kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Pak Win menegaskan bahwa situasi penuh tantangan ini harus dijadikan momentum emas untuk merajut dan memperkuat kembali nilai-nilai luhur Pela Gandong dan hidup orang basudara. Hanya dengan landasan persaudaraan yang kokoh dan kebersamaan yang sejati, Maluku akan mampu melangkah mantap mewujudkan masa depan yang damai, sejahtera, dan Maluku Maju, pungkasnya.






