Oleh: Djunaidi Raupele (Ketua FORKODA Maluku)
Dari ketinggian Cefe Robot Batu Merah, tempat angin pegunungan bertemu dengan napas samudera, kita tidak hanya sedang memandang lanskap Ambon yang memukau. Kita sedang menatap garis cakrawala masa depan. Di sanalah, di balik riak Teluk yang tenang, bergelora sebuah panggilan sejarah yang tak bisa lagi ditunda: Lahirnya Kota Lease.
1. Perjuangan yang Berurat Akar pada Adat dan Ulayat
Kota Lease yang kita perjuangkan bukanlah sekadar entitas administratif yang dingin. Ia adalah Rumah Besar yang dibangun di atas fondasi batu karang peradaban Maluku Tengah.
Menjunjung Hak Ulayat: Perjuangan ini adalah ikrar untuk memuliakan tanah adat. Kota Lease harus menjadi benteng pelindung bagi hak-hak ulayat, memastikan bahwa derap pembangunan tidak akan pernah menggilas warisan leluhur.
Spirit Orang Basudara: Di bawah panji Kota Lease, nilai Pela Gandong adalah kompasnya. Kita tidak hanya membangun gedung, kita sedang memperkokoh persaudaraan antar-pulau yang telah teruji oleh zaman.
2. Menembus Batas: Konektivitas Tanpa Sekat
Heroisme hari ini tidak lagi diukur dengan senjata, melainkan dengan keberanian untuk memutus rantai birokrasi yang panjang dan melelahkan.
Ketersambungan Wilayah: Kita memimpikan sebuah kota di mana laut bukan lagi pemisah, melainkan jembatan emas. Dengan pusat pemerintahan yang lebih dekat, setiap denyut nadi kebutuhan masyarakat—dari pendidikan hingga kesehatan—harus dapat diakses secepat kilat.
Akselerasi Layanan Publik: Rakyat Lease tidak boleh lagi menunggu terlalu lama untuk hak-hak dasarnya. Pemekaran adalah jalan tol menuju keadilan sosial, di mana negara hadir tepat di depan pintu rumah setiap warga di Kepulauan Lease.
3. Tim Perjuangan: Penjaga Api yang Tak Kunjung Padam
Kepada Tim Perjuangan Pemekaran, ingatlah bahwa kalian adalah Punggawa Harapan. Kalian adalah arsitek yang sedang menyusun bata demi bata harga diri masyarakat.
Setiap naskah akademik yang disusun adalah senjata intelektual.
Setiap lobi politik adalah diplomasi martabat.
Setiap hambatan regulasi bukanlah dinding, melainkan ujian untuk membuktikan seberapa besar cinta kita pada tanah ini.
4. Menatap Masa Depan dari Ketinggian
Perjuangan ini adalah warisan bagi anak cucu kita. Kita ingin mereka tumbuh di sebuah kota yang mandiri, menjadi Pusat Ekonomi Maritim yang disegani, dan menjadi Pusat Kebudayaan yang tetap memegang teguh identitas Maluku.
Dari puncak Batu Merah, kita telah mengambil sumpah. Kita tidak akan turun sebelum fajar Kota Lease menyingsing. Ini bukan sekadar pemekaran wilayah; ini adalah revolusi kesejahteraan.
Kota Lease: Berdaulat dalam Gagasan, Matang dalam Perencanaan, Bermartabat dalam Perjuangan!
“Sejarah tidak mencatat mereka yang diam, sejarah mencatat mereka yang berani melangkah meski jalan mendaki.










