SorotNasional.com
M.S Pelu GB
AMBON, Maluku — Pendidikan di bumi Raja-Raja Maluku tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik setiap fasilitas modern yang dinikmati generasi hari ini, terbentang jejak panjang keringat, air mata, serta ketulusan perjuangan masa lampau.
Pesan mendalam inilah yang ditegaskan oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, saat melakukan kunjungan kerja sekaligus menghadiri peringatan HUT SMP Negeri 1 Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), pada Senin (14/9/2026).
Di hadapan para guru, unsur Forkopimda, serta ratusan siswa-siswi, Gubernur Hendrik memaparkan refleksi historis dan filosofis mengenai transformasi pendidikan. Ia menyoroti betapa kontrasnya tantangan masa lalu dengan kemudahan fasilitas yang ada di era modern saat ini.
Dari Keterbatasan Menuju Ketangguhan: Membaca Akar Perjuangan Maluku
Dalam pandangannya yang bernada humanis dan membakar semangat (heroik), Hendrik mengenang bagaimana beratnya perjuangan anak-anak Maluku di masa lalu untuk menuntut ilmu.
Jarak tempuh yang jauh dari kampung halaman membuat banyak pelajar terpaksa menumpang di rumah sanak saudara atau tinggal bersama mama piara (orang tua angkat).
Rutinitas harian pelajar masa itu tidak hanya berkutat di ruang kelas, melainkan diuji melalui beratnya beban domestik: mulai dari mengangkat air minum, mencari kayu bakar untuk memasak, hingga turun ke laut mengail ikan demi menyambung hidup.
“Dulu kita anak-anak sekolah di Maluku ini banyak yang asalnya jauh dari tempat kegiatan sekolah, tinggal di rumah saudara, dan banyak juga yang tinggal di mama piara. Selain sekolah, kita bantu angkat air minum, cari kayu untuk memasak, bahkan ikut pergi mengail ikan. Intinya, selain bersekolah, kami dulu banyak juga diisi kegiatan yang menguras tenaga dan juga pikiran,” ungkap Hendrik penuh penghayatan.
Namun, tempaan keras dialektika kehidupan tersebut terbukti melahirkan ketangguhan mental (resilience). Lewat kedisiplinan yang ketat, ketekunan, serta proses belajar yang dilandasi niat sungguh-sungguh, anak-anak Maluku di masa lalu berhasil bertransformasi menjadi pilar-pilar penting bangsa—mulai dari akademisi, rektor, guru, aparatur birokrasi, aparat keamanan, hingga para pengusaha sukses.
Disiplin Ilmiah dan Humanis di Era Modern
Berpijak dari pengalaman masa lalunya, Hendrik turut menggarisbawahi pentingnya menjaga kedisiplinan dalam ekosistem pendidikan kontemporer. Ia mengenang masa-masa ketika hukuman fisik atau pendisiplinan keras turut membentuk karakternya hingga bisa memimpin Maluku saat ini.
Kendati demikian, secara bijaksana ia menegaskan bahwa metode pendisiplinan hari ini wajib beradaptasi dengan koridor hukum dan perundang-undangan yang berlaku, termasuk Undang-Undang Perlindungan Anak.
“Marilah patuh kepada bapak-ibu guru. Meskipun sekarang ada Undang-Undang Perlindungan Anak, bapak-ibu guru seng bisa pukul dong lai [tidak bisa memukul lagi], tapi mendisiplinkan dong [mereka] harus,” tegasnya.
Ia mengingatkan kepada para tenaga kependidikan bahwa di era modern, penegakan disiplin harus dilakukan secara humanis, arif, dan bijaksana—tanpa meninggalkan esensi ketegasan moral demi mencetak karakter anak didik yang berintegritas.
Panggilan Moral untuk Generasi Muda Maluku
Menutup rangkaian kunjungan dan momentum perayaan hari jadi sekolah tersebut, Gubernur Hendrik melayangkan seruan moral yang bersifat universal kepada seluruh pelajar, khususnya di SMP Negeri 1 Taniwel dan Provinsi Maluku secara luas. Ia berpesan agar fasilitas pendidikan yang kini jauh lebih maju dan modern dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh generasi muda untuk menggapai masa depan gemilang.
“Maka dari itu, saya mengajak kepada semua pelajar di SMP Negeri 1 Taniwel dan seluruh pelajar di Maluku untuk bersemangat menempuh ilmu pengetahuan agar kelak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara,” pungkas Hendrik, diiringi ucapan selamat ulang tahun untuk almamater kebanggaan masyarakat Taniwel tersebut.






