Sorot Nasional.com
Reporter
Muna, Sultra – Di tengah terik dan barisan yang tegak, satu nama kembali disebut saat upacara HUT RI ke-81 Kecamatan Napabalano kemarin. Syafifah Anjani, siswi SMAN 3 Raha, akhirnya mengemban tugas paling sakral sebagai pengibar Bendera Pusaka. Momen itu menjadi puncak dari perjalanan 3 tahunnya di dunia Paski yang penuh disiplin dan tanggung jawab.
Bagi Syafifah, mengibarkan Sang Merah Putih bukan hal yang datang tiba-tiba. Ada proses panjang, latihan, dan dua kali kepercayaan sebagai pemimpin barisan sebelum akhirnya berdiri di titik paling depan.
Perjalanan Syafifah di Paski Kecamatan Napabalano dimulai sejak kelas 10. Konsistensi dan sikapnya membuat ia selalu dipercaya.
Tahun pertama, ia ditunjuk menjadi Danton Pengukuhan. Tugas memimpin jalannya prosesi pengukuhan anggota baru ia emban dengan tenang dan tegas.
Tahun kedua, kepercayaannya kembali diulang. Ia kembali menjadi Danton Pengukuhan. Kali ini perannya tidak hanya memimpin, tapi juga masuk dalam Serpihan Barisan 8 barisan inti yang menjadi garda terdepan dalam upacara HUT kemerdekaan RI ke-80 tahun lalu.
Dan tahun ini, tahun ketiga, kerja kerasnya terbayar lunas. Syafifah dipercaya sebagai Pengibar Bendera pada upacara peringatan HUT RI ke 81 Kecamatan Napabalano.
“Rasanya campur aduk. Bangga, gugup, tapi juga haru. Tiga tahun nunggu momen ini. Pas bendera naik, semua latihan capek itu terbayar kan,” ucap Syafifah dengan mata berkaca-kaca setelah bertugas.
Syafifah Anjani lahir di Berumembe, 14 Desember 2009. Ia anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Samsir B. dan Ibu Risma. Saat ini ia tinggal bersama keluarga di Desa Langkumapo.
Di rumah, Syafifah dikenal sebagai anak yang mandiri dan rajin. Di sekolah, ia dikenal karena dua hal: Paski dan Taekwondo.
Ya, selain aktif di Paski, Syafifah juga merupakan atlet berprestasi cabang bela diri Taekwondo. Dua dunia yang sama-sama menuntut disiplin, kekuatan fisik, dan mental baja.
Pagi latihan tendangan dan poomsae. Sore latihan PBB dan formasi. Jadwal padat itu ia jalani tanpa mengeluh.
“Taekwondo mengajarkan saya fokus dan kontrol diri. Paski mengajarkan tanggung jawab sama kekompakan. Dua-duanya saling menguatkan,” katanya.
Guru dan pembina SMAN 3 Raha menyebut Syafifah sebagai contoh nyata pelajar yang seimbang antara akademik, organisasi, dan olahraga.
“Selama 3 tahun jadi anggota Paski, belum pernah kita dapat laporan dia telat atau lalai tugas. Justru dia yang sering mengingatkan teman-temannya. Itu yang bikin kami yakin menunjuk dia jadi pengibar tahun ini,” ujar salah satu pembina Paski.
Berita Syafifah terpilih jadi pengibar disambut haru oleh keluarga di Desa Langkumapo. Bapak Samsir dan Ibu Risma mengaku bangga melihat anaknya bisa mengharumkan nama sekolah dan keluarga.
“Kami cuma bisa doakan dan dukung. Lihat dia berdiri paling depan bawa bendera, rasanya semua lelah orang tua terbayar,” tutur Ibu Risma.
Bagi Syafifah, menjadi Paski bukan hanya tentang upacara 17 Agustus. Lebih dari itu, ini tentang membentuk karakter. Tentang belajar memimpin, belajar gagal, belajar bangkit, dan belajar mengabdi.
“Pesan saya buat adik-adik: jangan takut mulai dari bawah. Saya juga mulai dari danton, dari serpihan. Nikmati prosesnya. Karena di akhir, Tuhan kasih hasil yang terbaik,” pesannya.
Kini, dengan tanda pengalaman 3 tahun di lengan dan satu tugas pengibar di dada, Syafifah Anjani menutup masa Paskinya di SMAN 3 Raha untuk Kecamatan Napabalano.






