Sorot Nasional.com
M.S Pelu GB
SORONG – Nilai-nilai heroisme dan keteguhan jiwa Sang Kapitan besar Thomas Matulessy kembali bergetar di ufuk timur nusantara. Memperingati Hari Pattimura ke-209 tahun 2026, masyarakat Maluku di Kota Sorong, Papua Barat Daya, bersiap menggelar tradisi sakral “Lari Obor” yang menjadi simbol estafet semangat perjuangan antargenerasi.
Kegiatan yang sarat akan makna filosofis ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 15 Mei 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, titik awal keberangkatan (start) akan dipusatkan di depan Stadion Lapangan Sepak Bola Kota Sorong, berdampingan dengan Markas Pomal Kodaeral XIV Sorong. Sebuah lokasi strategis yang mempertemukan semangat sportivitas dan disiplin prajurit.
Estafet 12 Kilometer: Sebuah Manifestasi Tekad
Pelepasan lari obor tahun ini akan dipimpin langsung oleh Kolonel Laut (KH) H. Mochtar Manji Lapola, S.Ag., M.H.
Ritual pembakaran obor bukan sekadar menyalakan api fisik, melainkan simbolisasi menghidupkan kembali bara api “Pattimura Tua” ke dalam sanubari “Pattimura Muda” ucap Kolonel Mochtar Manji Lapola dengan penuh semanagat.
Api tersebut akan diarak sejauh 12 kilometer, terbagi dalam 11 etape perjuangan, menuju garis finish di Gedung Serba Guna Batalyon Kota Sorong. Angka 11 etape ini seolah merepresentasikan persatuan dan kesatuan wilayah yang menjadi ruh perjuangan masyarakat kepulauan.
Harmoni Budaya Maluku dan Papua
Yang membuat peringatan tahun ini semakin istimewa adalah sentuhan kultural yang kental. Pelepasan lari obor akan diiringi oleh hentakan Tarian Adat Cakalele yang dibawakan oleh Ikatan Keluarga Besar Buru (IKBB) dibawah pimpinan Bung Yusuf Kaimuddin.
Gerak dinamis dan pekikan khas Cakalele dari putra-putra Pulau Buru ini mencerminkan keberanian dan harga diri yang tak tergoyahkan.
Mochtra Manji Lapola menambahkan’ Secara sosiologis, perhelatan ini bukan sekadar seremoni warga Maluku, melainkan wujud nyata integrasi budaya di Tanah Malamoi. Sebagaimana tema yang diusung:
“Semangat Juang Pattimura Tua Selalu Jadi Sombar For Katong Pattimura Muda, Untuk Nama Maluku Pung Bae di Tanah Malamoi”. Kata “Sombar” atau pengayom menegaskan bahwa warisan leluhur adalah pelindung sekaligus penunjuk arah bagi generasi masa kini untuk memberikan kontribusi terbaik di mana pun mereka berpijak.
Jadwal kegiatan masyarakat diharapkan dapat hadir dan memberikan dukungan di sepanjang rute lari obor yang akan dimulai pada pukul 14.30 WIT hingga selesai. Kemeriahan akan berlanjut pada malam hari dengan agenda Pagelaran Seni dan Malam Obor yang diprediksi akan menyatukan ribuan warga dalam semangat Salam Sarane.
Menutup pembicaraan Mochtar Manji Lapola mengtaakan’ Melalui api obor ini, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: Bahwa Pattimura-Pattimura baru akan terus lahir dari rahim sejarah, membawa cahaya kemajuan, keadilan, dan persaudaraan yang abadi di bumi Cenderawasih, dan beliau Kolonel Mochtar Manji Lapola yang akrab dengan panggilan Abang Komandan menutup kalimat dengan yel-yel singkat’ “JALASVEVA JAYAMAHE MANGADA – MANGADA UMBE PATTIMURA MUDA YES”.









