SorotNasional.com
M.S Pelu GB
AMBON – Di tengah hiruk-pikuk diskursus publik mengenai siapa yang akan mengisi kursi Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon, sebuah pesan jernih mengalir dari Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena. Di sela-sela pelantikan pengurus KONI di Swiss-Belhotel, suasana yang semula formal berubah menjadi momen refleksi mendalam tentang masa depan birokrasi kota bertajuk Manise ini, pada Sabtu (18/4/2026).
Bagi Bodewin, proses seleksi ini bukan sekadar urusan administratif atau prosedur di atas kertas. Ini adalah ikhtiar suci untuk menemukan “tulang punggung” pemerintahan yang akan menopang seluruh napas pelayanan publik.
Bukan Panggung Politik, Melainkan Pengabdian Karier
Dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa, Bodewin mengingatkan bahwa jabatan Sekkot adalah puncak pengabdian seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia menegaskan bahwa ruang ini bukanlah ajang kontestasi politik yang mengandalkan riuh rendah dukungan massa.
“Dukungan adalah hak demokrasi, namun jangan sampai ia menjadi racun yang menjatuhkan martabat kandidat lain. Mereka yang bertarung adalah putra-putra terbaik yang memiliki rekam jejak. Mari kita jaga kehormatan mereka,” ungkapnya penuh empati.
Ia mengajak seluruh kandidat untuk senantiasa menampakkan sisi terbaik mereka. Baginya, proses yang objektif melalui tangan profesional Pansel dan asesor akan melahirkan “produk” kepemimpinan yang is the best—sebuah standar kualitas tanpa kompromi demi kemajuan daerah.
Suara Rakyat: Asa pada Era Keemasan Ambon
Di balik ketegasan prosedur, denyut harapan masyarakat mulai terasa menguat. Meski enggan identitasnya dipublikasikan, beberapa tokoh masyarakat menyuarakan optimisme yang mendalam terhadap kepemimpinan Bodewin Wattimena.
Mereka menilai, prestasi “Pak Win” dalam menata birokrasi selama ini telah meletakkan fondasi yang sangat kuat. Prediksi pun bermunculan bahwa di bawah nakhodanya, Kota Ambon sedang bersiap melakukan lompatan kuantum menuju peningkatan kesejahteraan yang pesat.
Keberaniannya menjaga integritas seleksi Sekkot dipandang sebagai bukti nyata bahwa ia tidak sedang membangun kekuatan politik, melainkan sedang membangun peradaban birokrasi yang bersih.
Ambon: Barometer Maluku, Sampel Indonesia
Visi besar Bodewin melampaui batas geografis kota. Ia memimpikan Ambon bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, melainkan sebagai barometer kemajuan di Maluku dan sampel kota terbaik di Indonesia. Sebuah cita-cita heroik yang menuntut transformasi total dari seluruh elemen pemerintahan.
Pesan penutupnya menggetarkan sanubari, sebuah kalimat yang merangkul setiap perbedaan dan menyatukan tekad untuk membangun tanah kelahiran.
“Kita semua sedang bertransformasi ke arah yang lebih baik. Mari kita teguh memegang slogan: Beta par Ambon, Ambon par samua,” pungkasnya dengan penuh semangat.
Melalui komitmen yang transparan dan objektif ini, masyarakat menanti lahirnya sosok pemimpin birokrasi yang kapabel dan jujur—seorang Sekkot yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas untuk membawa Ambon menuju pelayanan publik yang paripurna.









