Penataan Ulang Gunung Botak Bupati Dukung Keterlibatan Masyarakat Adat

- Jurnalis

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 07:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sorotnasional.com
M.S. Pelu GB

Buru, Maluku – Kabupaten Buru.
Pemerintah Kabupaten Buru, di bawah pimpinan Bupati terpilih periode 2025-2030 yang bertajuk Buru Berseri, Ikram Umasugi, S.E., berencana menata ulang kawasan Gunung Botak secara menyeluruh.

Penataan ini bertujuan untuk menciptakan manfaat berkelanjutan, menyelesaikan berbagai masalah yang ada, dan memastikan bahwa setiap dinamika di wilayah pertambangan ini berada di bawah kendali penuh pemerintah daerah.

Dalam pertemuan dengan tokoh adat petuanan Kayeli, Bupati Ikram Umasugi menyoroti keberadaan 10 koperasi yang ia sebut sebagai “koperasi siluman.”

Koperasi-koperasi ini beroperasi tanpa kejelasan tata kelola dan legalitas, merugikan banyak pihak, dan menunjukkan kurangnya transparansi.

Kondisi ini membuat penataan ulang menjadi suatu keharusan demi menciptakan sistem yang lebih akuntabel.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Bupati secara tegas mendukung pembentukan koperasi yang dimiliki oleh masyarakat adat setempat.

Baca Juga :  Wujudkan Buru Bersei Rakerdes Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Desa 2026 di Buka

Ia berpendapat bahwa sebagai pemilik hak ulayat, masyarakat adat memiliki hak penuh untuk mengajukan izin mendirikan koperasi atau industri pertambangan rakyat.

Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan dan pengakuan terhadap hak-hak tradisional.

Sebagai bentuk komitmennya, Bupati Ikram Umasugi akan menyampaikan aspirasi masyarakat adat ini langsung kepada Gubernur Maluku.

Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengadvokasi hak-hak masyarakat adat ke tingkat provinsi.

Dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi, diharapkan proses legalisasi dan pembentukan koperasi milik masyarakat adat dapat berjalan lebih lancar dan kuat.

Para tokoh adat, khususnya dari marga Wael, Besan, dan Nurlatu, menyambut baik inisiatif ini.

Mereka melihat usulan ini sebagai bentuk pengakuan yang adil atas hak mereka sebagai pemilik wilayah.

Mereka berharap, dengan adanya koperasi yang dikelola oleh masyarakat adat, keuntungan dari hasil tambang dapat kembali kepada masyarakat dan digunakan untuk kesejahteraan bersama.

Baca Juga :  Relokasi dan Terbitkan SHM Bersumber dari HPL BP Batam, Pemerintah Beri Kepastian Hukum bagi Warga Rempang

Lebih lanjut, Bupati menyatakan bahwa masyarakat adat memiliki hak penuh untuk mengelola sumber daya alam di wilayah mereka.

Ia secara tegas mendukung keterlibatan langsung para pemangku adat dari seluruh petuanan Kayeli dalam pengelolaan sumber daya alam di Gunung Botak dan sekitarnya.

Keterlibatan ini tidak hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pengelola dan pemilik yang memiliki kendali penuh.

Penataan ulang ini diharapkan menjadi fondasi untuk tata kelola pertambangan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan transparan.

Dengan memberdayakan masyarakat adat, pemerintah daerah berharap dapat menekan konflik sosial, mengurangi dampak lingkungan, dan memastikan sumber daya alam dimanfaatkan secara optimal untuk kemakmuran masyarakat lokal.

Rencana ini juga diharapkan menjadi contoh bagi pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal di wilayah lain di Bumi Bupolo yang kita sayangi.

 

Berita Terkait

Wamen Ossy Ajak Pemkab Menguatkan GTRA untuk Selesaikan Masalah Pertanahan di Tanah Laut
Tinjau PELATARAN di Kantah Kota Banjarbaru, Wamen Ossy: Hindari Masyarakat Menunggu Terlalu Lama di Loket
Layanan Pertanahan Jadi Lebih Dekat dengan Sentuh Tanahku dan PELATARAN, Ubah Persepsi Masyarakat Soal BPN
Kadisparprov Sultra Tinjau Langsung Persiapan Festival HUT Liangkabori, Targetkan Jadi Magnet Wisata Nasional
Diduga Hina Suku Moronene di Facebook, Akun ‘Arya Koe’ Dilaporkan ke Polres Bombana
Nakhoda Baru Lini Hukum NasDem Lampung: Mempertegas Integritas dan Pengabdian Publik
ABPEDNAS dan SUCOFINDO Hadirkan Akses Air Bersih bagi Masyarakat Desa di Aceh Besar
Liang Metanduno Diguncang Keraguan, Tapi Dunia Sudah Terlanjur Menoleh Ke Muna
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:01 WIB

Wamen Ossy Ajak Pemkab Menguatkan GTRA untuk Selesaikan Masalah Pertanahan di Tanah Laut

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:55 WIB

Tinjau PELATARAN di Kantah Kota Banjarbaru, Wamen Ossy: Hindari Masyarakat Menunggu Terlalu Lama di Loket

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:50 WIB

Layanan Pertanahan Jadi Lebih Dekat dengan Sentuh Tanahku dan PELATARAN, Ubah Persepsi Masyarakat Soal BPN

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:49 WIB

Kadisparprov Sultra Tinjau Langsung Persiapan Festival HUT Liangkabori, Targetkan Jadi Magnet Wisata Nasional

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:23 WIB

Diduga Hina Suku Moronene di Facebook, Akun ‘Arya Koe’ Dilaporkan ke Polres Bombana

Berita Terbaru

Jakarta

Sertipikat Tanah Hilang? Berikut Panduan Cara Mengurusnya

Kamis, 4 Jun 2026 - 15:10 WIB