Liang Metanduno Diguncang Keraguan, Tapi Dunia Sudah Terlanjur Menoleh Ke Muna

- Jurnalis

Rabu, 3 Juni 2026 - 12:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sorot Nasional.com
Riski

Muna, Sultra  – Saat para peneliti Indonesia-Australia mengumumkan bahwa cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna, berusia setidaknya 67.800 tahun dan menjadi seni cadas tertua yang pernah ditemukan manusia, dunia arkeologi dibuat gempar. Temuan itu bahkan menempatkan Indonesia di pusat perdebatan tentang asal-usul ekspresi seni manusia.

Namun tidak semua pihak menerima klaim tersebut tanpa pertanyaan.

Arkeolog Prancis, Georges Sauvet, secara terbuka mengkritik metode penanggalan uranium-thorium (U-Th) yang digunakan untuk menentukan usia lukisan tersebut.

Menurut Sauvet, metode itu berpotensi menghasilkan umur yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya apabila lapisan kalsit yang diteliti tidak berada dalam sistem tertutup dan telah mengalami perubahan akibat rembesan air atau faktor lingkungan lainnya.

Baca Juga :  Kantor Pertanahan Kabupaten Konawe Kepulauan Menyerahkan Sebanyak 60 Bidang Sertifikat Kepada Masyarakat Desa Puuwatu

Ia juga menuntut adanya verifikasi silang menggunakan metode lain seperti karbon-14 sebelum klaim usia tertua dapat diterima sepenuhnya.

Sauvet bahkan menyebut adanya kecenderungan “perlombaan mencari seni cadas tertua” yang menurutnya harus diimbangi dengan kehati-hatian ilmiah. Kritik itu kemudian memicu perdebatan internasional yang melibatkan arkeolog dari berbagai negara.

Namun di sisi lain, banyak peneliti menegaskan bahwa setiap metode penanggalan memiliki keterbatasan dan potensi kesalahan masing-masing. Mereka menilai prosedur ilmiah yang digunakan dalam penelitian Liang Metanduno telah dijelaskan secara rinci dan masih dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Baca Juga :  Fachmi Idris Terima Penghargaan Life Achiesement di KORPRI Award

Terlepas dari perdebatan tersebut, satu hal tidak berubah:

Nama Pulau Muna kini telah masuk ke dalam peta arkeologi dunia.

Dulu dunia berbicara tentang gua-gua prasejarah di Eropa.

Hari ini dunia memperdebatkan sebuah cap tangan yang ditemukan di tanah Muna.

Mereka boleh meragukan angka 67.800 tahun.

Mereka boleh mempertanyakan metodenya.

Tetapi mereka tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Liang Metanduno telah memaksa dunia menoleh ke Desa Liangkabori Muna, Indonesia.

Berita Terkait

Semarak HUT ke-80 Bhayangkara, Polres Metro Bekasi Kota Gelar Turnamen Kapolres Cup 2026
Plh Walkot Harris Bobihoe Bahas Solusi Persampahan Dan Tindak Tegas Oknum SPMB
Bupati Muna dan Bupati Muna Barat Buka Turnamen Darwin Cup I 2026, Perkuat Sinergitas Antar Daerah
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
Wamen Ossy Ajak Pemkab Menguatkan GTRA untuk Selesaikan Masalah Pertanahan di Tanah Laut
Tinjau PELATARAN di Kantah Kota Banjarbaru, Wamen Ossy: Hindari Masyarakat Menunggu Terlalu Lama di Loket
Layanan Pertanahan Jadi Lebih Dekat dengan Sentuh Tanahku dan PELATARAN, Ubah Persepsi Masyarakat Soal BPN
Kadisparprov Sultra Tinjau Langsung Persiapan Festival HUT Liangkabori, Targetkan Jadi Magnet Wisata Nasional
Berita ini 147 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:00 WIB

Semarak HUT ke-80 Bhayangkara, Polres Metro Bekasi Kota Gelar Turnamen Kapolres Cup 2026

Senin, 8 Juni 2026 - 19:54 WIB

Plh Walkot Harris Bobihoe Bahas Solusi Persampahan Dan Tindak Tegas Oknum SPMB

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:44 WIB

Bupati Muna dan Bupati Muna Barat Buka Turnamen Darwin Cup I 2026, Perkuat Sinergitas Antar Daerah

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:01 WIB

Wamen Ossy Ajak Pemkab Menguatkan GTRA untuk Selesaikan Masalah Pertanahan di Tanah Laut

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:55 WIB

Tinjau PELATARAN di Kantah Kota Banjarbaru, Wamen Ossy: Hindari Masyarakat Menunggu Terlalu Lama di Loket

Berita Terbaru

Jakarta

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Senin, 8 Jun 2026 - 10:34 WIB