SorotNasional.com
Riski
KENDARI, Sultra — Sejarah sering kali enggan mencatat mereka yang lahir di atas hamparan karpet merah. Sejarah justru lebih terpikat pada anak-anak ideologis bangsa yang lahir dari rahim keterbatasan, merangkak dari pelosok daerah, lalu berjalan tegak menantang sekaligus menundukkan takdirnya sendiri.
Hari ini, Jumat, 11 September 2026, sebuah babak baru sejarah akademik kedirgantaraan iptek daerah resmi ditorehkan di Universitas Halu Oleo (UHO). Mantan Ketua LPPM UHO dua periode (2017–2025), Prof. Dr. La Aba, S.Si., M.Si., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Fisika Terapan.
Pengukuhan yang berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa di Auditorium Mokodompit UHO ini menjadi saksi bisu bagaimana keteguhan mental seorang anak kampung mampu meruntuhkan tembok ketidakmungkinan.
Lahir dan dibesarkan di Tampo, Kabupaten Muna, perjalanan hidup La Aba menuju mimbar tertinggi akademik adalah potret konkret dari sebuah tirakat panjang. Ia meniti tangga pendidikan dari titik paling bawah, di tengah keterbatasan fasilitas pelosok yang serba terbatas pada masanya.
Beliau menamatkan pendidikan dasar di SD Negeri 2 Tampo pada tahun 1983, melanjutkan ke SMP Negeri Tampo hingga lulus tahun 1986, dan menyelesaikan masa remaja sekolahnya di SMA Negeri 1 Raha pada tahun 1989.
Di tanah Muna itulah, watak pejuang dan mental bajanya ditempa. Alih-alih menyerah pada nasib sebagai anak daerah, keterbatasan tersebut justru memicu bahan bakar tekad yang menyala-nyala. Keberaniannya teruji ketika ia memutuskan merantau ribuan kilometer menyeberangi lautan menuju Yogyakarta, membidik kiblat pendidikan nasional di Universitas
Gadjah Mada (UGM).
Di menara akademis UGM, La Aba membuktikan bahwa anak kampung dari pesisir Sultra memiliki kapasitas intelektual yang setara dengan anak-anak kota besar.
Perjuangan akademiknya di ranah rantau dilalui dengan penuh kedisiplinan. Ia berhasil menyelesaikan studi S1 Fisika (1989–1996), melanjutkan ke jenjang S2 Fisika Material (1997–1999), hingga puncaknya meraih gelar puncak akademik Doktor (S3) Ilmu Fisika (2009–2013).
Kembali ke Bumi Anoa dengan bekal keilmuan yang matang, pengabdiannya di Universitas Halu Oleo dimulai dari bawah sebagai staf pengajar dan CPNS pada tahun 1997. Langkah demi langkah fungsional akademik ia daki dengan kesabaran seorang pejuang, mulai dari Lektor hingga Lektor Kepala. Komitmennya yang tanpa pamrih terhadap kemajuan riset kampus membuat kepemimpinannya teruji secara struktural.
Puncaknya, beliau dipercaya mengemban amanah besar sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UHO selama hampir satu dekade, yakni dari tahun 2017 hingga 2025.
Di bawah komandonya, LPPM UHO bertransformasi menjadi motor penggerak riset yang tidak hanya aktif di atas kertas, tetapi juga berdampak langsung pada hilirisasi produk keilmuan di tengah masyarakat Sultra.
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk memutus rantai keterbatasan. Saya berdiri di sini bukan hanya untuk diri saya sendiri, melainkan untuk membuktikan kepada setiap anak di pelosok desa, anak nelayan, dan anak petani di Sulawesi Tenggara: jangan pernah takut bermimpi besar, karena kalian semua memiliki hak yang sama untuk berdiri di mimbar tertinggi ini!” tegas Prof. La Aba.
Gaya keilmuan Prof. La Aba adalah pengejawantahan dari sains yang membumi. Ia bukan tipe ilmuwan menara gading yang hanya pandai berteori atau menimbun dokumen riset di dalam ruangan ber-AC. Gelar Guru Besar Fisika Terapan yang disandangnya dibayar tunai dengan karya nyata yang langsung menyentuh hajat hidup orang banyak.
Melalui inovasi mutakhirnya yang berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q3, ia berhasil memanfaatkan Pasir Nambo menggunakan teknologi microwave sebagai media filter air. Inovasi teknologi ini tidak dibiarkan mengendap di perpustakaan kampus.
Prof. La Aba turun langsung ke lapangan memimpin mahasiswanya dalam program KKN Tematik UHO di Desa Moramo, Konawe Selatan.
Di sana, ia berhadapan langsung dengan realita sosial: air baku masyarakat yang keruh berwarna jingga pekat. Dengan metode aerasi filtrasi bertingkat rancangannya, instalasi air bersih dibangun secara gotong royong.
Hasilnya sangat dramatis. Air yang tadinya tidak layak guna, berubah seketika menjadi jernih, higienis, dan layak konsumsi. Itulah arti sejati dari pengabdian seorang intelektual, ketika ilmu pengetahuan tingkat tinggi diturunkan ke bumi untuk menjadi solusi konkret bagi persoalan rakyat kecil.
Didampingi dengan penuh rasa bangga oleh sang istri tercinta, Hj. Jamila, S.Pd., M.Si., beserta kedua putranya, momentum bersejarah pada Jumat ini menandai lahirnya sosok pemimpin akademik sejati dari Kampus Hijau Bumi Tridharma.
Prof. La Aba telah menuntaskan tugas pertamanya: membuktikan anak kampung dari Tampo mampu menguasai sains dunia. Kini, tugas yang lebih besar telah menanti di hadapan mata: menakhodai barisan intelektual dan generasi muda demi kejayaan bangsa serta kedaulatan iptek Indonesia.






