Mitra SPPG Muna Napabalano Bungkam Soal Suplayer, Dugaan Monopoli Bahan Pokok Menguat

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sorot Nasional.com
Reporter/Riski
‎
‎TAMPO, MUNA, Sultra – Sikap tidak transparan dipertontonkan secara vulgar oleh Kepala Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) Muna Napabalano dan pihak mitra kerja. Alih-alih memberikan klarifikasi terang benderang terkait isu gurita monopoli suplayer bahan pokok di wilayah Tampo, Kabupaten Muna, kedua otoritas ini justru kompak bersandiwara, menjadikan masyarakat dan wartawan layaknya bola pingpong yang dilempar ke kiri dan ke kanan demi menyelamatkan diri masing-masing.
‎
‎Aksi saling tuding dan buang badan ini menguatkan sinyalemen bahwa ada “persekongkolan jahat” yang sengaja disembunyikan dalam proyek rantai pasok program gizi nasional tersebut.
‎Perburuan informasi yang dilakukan tim investigasi media di lapangan langsung membentur tembok tinggi di unit pelayanan Tampo.

Kepala SPPG Muna Napabalano yang dicecar pertanyaan mengenai legalitas penunjukan suplayer tunggal bahan baku melempar seluruh beban administratif kepada pihak mitra.
‎
‎“Kami Cuma terima barang dan memasak. Urusan siapa suplayer yang punya kuasa memasukkan barang, kontraknya seperti apa, itu murni urusan penuh pihak mitra. Jangan tanya saya, tanya Mitra,” ungkap Kepala SPPG.
‎
‎Mengejutkan, drama “cuci tangan” ini langsung berlanjut ke babak berikutnya saat tim investigasi menghubungi pihak mitra melalui sambungan seluler. Bukannya memberikan transparansi, mereka justru menolak disalahkan dan mengklaim bahwa penunjukan vendor di lapangan murni atas rekomendasi Kepala SPPG.
‎
‎Namun, kedok pembelaan diri mereka langsung runtuh ketika tim investigasi mencecar pertanyaan krusial mengenai jumlah total dan identitas asli para suplayer yang terlibat. Pihak mitra diduga kuat telah mengangkangi aturan dengan sengaja tidak melibatkan 15 suplayer sebagaimana ketentuan BGN (Badan Gizi Nasional) yang berlaku.

Baca Juga :  Hadiri Festival Pramuka, Wakil Walikota Bekasi, Ingin Pramuka Lahirkan Generasi Tangguh Dan Optimis

Alih-alih membuka ruang bagi 15 suplayer lokal sesuai regulasi demi pemerataan ekonomi, proyek ini justru disinyalir dikunci secara sepihak untuk memuluskan praktik rekanan tunggal.
‎
‎Saat dikonfirmasi mengenai pelanggaran kuota 15 suplayer tersebut, pihak mitra mendadak memilih aksi GAKU (Gerakan Tutup Mulut) dan bungkam seribu bahasa. Mereka menolak keras merinci siapa saja pihak yang diuntungkan dalam monopoli pasokan bahan pokok di SPPG Muna Napabalano ini. Sikap tertutup dan tidak wajar tersebut menjadi sinyal kuat adanya permainan bawah meja serta kongkalikong yang sengaja ditutupi dari publik.
‎
‎Sikap memuakkan yang dipertontonkan oleh pejabat publik dan mitra pengadaan ini memantik kecaman keras dari berbagai pihak. Taktik saling oper tanggung jawab, pelanggaran regulasi BGN, dan aksi tutup mulut ini dinilai sebagai modus klasik untuk mengaburkan pelanggaran UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, sekaligus bentuk pembangkangan nyata terhadap UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP).
‎
‎Bagaimana mungkin program vital yang menyangkut hajat hidup masyarakat pesisir di utara Muna ini dikelola oleh pihak-pihak yang tidak berani bertanggung jawab dan alergi terhadap kontrol sosial.

Baca Juga :  Pj. Walikota Bekasi Resmikan Command Center Dinas Kesehatan

Sampai berita ini diturunkan, belum ada keterbukaan informasi sama sekali dan masyarakat serta wartawan terus menghubungi pihak mitra pengelola SPPG Muna Napabalano.
‎
‎Publik kini mendesak aparat penegak hukum, khususnya Unit Tipidkor Satreskrim Polres Muna dan Kejaksaan Negeri Muna, Korwil SPPG Kabupaten Muna untuk segera turun tangan memutus mata rantai monopoli ini dan menyeret para aktor yang mencoba berlindung di balik drama saling lempar tanggung jawab ini.
‎

Berita Terkait

Masyarakat Keluhkan Pelayanan Kantor Kelurahan Tampo: Kami heran Bahkan Stempel Dibawa Pulang Kepala Lingkungan
Manja Rider Community: Dari Perjalanan Keluarga Menjadi Kebersamaan di Jalan
MRC No One Knows Dari Rakit Bambu ke Gelaralam, Berlabuh di Bunga Ayu
Perkuat Keamanan Lapas Bekasi, Razia Gabungan Bersama APH
Ini, Strategi Disdagperin Kota Bekasi Naik Kelas Kan 12 IKM Lewat Sertifikasi Gratis
Pokja Wartawan Minta Pemkot Bekasi Sediakan Press Room Representatif di Kantor Walikota
Warga Terlantar Terevakuasi Oleh Dinsos Kota Bekasi di SPBU Setia Kawan Dengan Kondisi Memprihatinkan
Dampingi Wakapolres, Kapolsek Pondok Gede Pastikan Keamanan Maulid Akbar Sukses dan Kondusif
Berita ini 96 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 18:21 WIB

Masyarakat Keluhkan Pelayanan Kantor Kelurahan Tampo: Kami heran Bahkan Stempel Dibawa Pulang Kepala Lingkungan

Rabu, 23 September 2026 - 13:55 WIB

Manja Rider Community: Dari Perjalanan Keluarga Menjadi Kebersamaan di Jalan

Rabu, 23 September 2026 - 13:48 WIB

MRC No One Knows Dari Rakit Bambu ke Gelaralam, Berlabuh di Bunga Ayu

Rabu, 23 September 2026 - 08:15 WIB

Perkuat Keamanan Lapas Bekasi, Razia Gabungan Bersama APH

Selasa, 22 September 2026 - 18:16 WIB

Pokja Wartawan Minta Pemkot Bekasi Sediakan Press Room Representatif di Kantor Walikota

Berita Terbaru

Daerah

Perkuat Keamanan Lapas Bekasi, Razia Gabungan Bersama APH

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:15 WIB