Sorot Nasional.com
Riski
Kendari, Sultra – Semangat menyambut Hari Ulang Tahun Liangkabori mulai terasa. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Ridwan Badala di dampingi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna beserta jajaran, Kepala Desa Liangkabori beserta jajaran dan Pokdarwis Liangkabori serta Ketua panitia festival HUT Liangkabori beserta jajarannya turun langsung meninjau lokasi wisata Liangkabori, Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna Rabu, 3 Juni 2026, untuk memastikan kesiapan festival akbar yang akan digelar tahun ini.
Kunjungan kerja ini bukan hanya sebagai bentuk kolaborasi dan kerjasama untuk membantu mensukseskan festival HUT Liangkabori ke-29. Kadisparprov Sultra berjalan kaki menyusuri kawasan Liangkabori, masuk ke goa prasejarah, hingga mengecek titik-titik panggung utama dan area UMKM hingga penginapan bagi wisatawan Liangkabori. Tujuannya satu: memastikan Festival HUT Liangkabori 2026 naik kelas.
Liangkabori bukan sekadar wisata biasa. Kawasan ini menyimpan jejak peradaban manusia 67.800 tahun sebelum masehi. Lukisan tangan di dinding goa, fosil kerang, dan tebing kapur setinggi puluhan meter jadi saksi bisu sejarah Liangkabori.
“Potensi Liangkabori luar biasa. Ini warisan dunia yang ada di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Tugas kita sekarang mengemasnya jadi event yang layak ditonton wisatawan nusantara bahkan mancanegara,” ujar Kadisparprov Sultra di sela peninjauan.
Berdasarkan laporan Ketua panitia festival HUT Desa Liangkabori, La Ode Narten, S.Pd festival Liangkabori mengangkat tema selebrasi budaya dan sejarah, daseise lalo damowanu liwu “Namaigho te Wuna so djunia” (Datang dari muna untuk dunia).
Lebih lanjut Narten menjelaskan bahwa festival HUT Liangkabori ke 29 akan menampilkan banyak perlombaan, yaitu 1. Lomba layang-layang kreasi dan kolope 2. Kalego 3. Lomba menyanyi lagu daerah Muna 4. Lomba tari tradisional Muna 5. Lomba Pidato bahasa Muna dan 6. Fashion show pakaian tenun Muna.
Dari hasil tinjauan, Kadisparprov mencatat 3 PR besar: akses jalan, toilet umum, dan penerangan malam. Jalan menuju area goa masih licin saat hujan, sementara kapasitas toilet belum memadai untuk lonjakan pengunjung festival.
“Kami akan melakukan komunikasi dengan Gubernur Sultra, terkait kekurangan yang ada di lokasi wisata Liangkabori agar kemudian bisa segera dilakukan pengembangan kawasan Wisata Liangkabori dan menurut nya, pengalaman pengunjung itu nomor satu,” tegasnya.
“Kami tidak mau festival hanya lewat. Harus ada dampak ekonomi langsung. Ibu-ibu pengrajin tenun, pemuda pemandu goa, sampai pelaku kuliner—semua harus naik kelas,” Tutup Ridwan Badala.






