sorotnasional.com
M.S. Pelu GB
AMBON, MALUKU – Di bawah langit Kota Ambon yang menyimpan sejarah panjang kemaritiman, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan besar rakyatnya. Dalam forum bergengsi Bilateral Maritime Forum (BMF) Indonesia-Belanda ke-6, pada Rabu (14/1/2025).
ia berdiri tegak menyerukan penghentian kebijakan transhipment atau alih muat di tengah laut yang selama ini dianggap “merampok” masa depan Maluku secara halus.
Maluku memang dianugerahi kekayaan laut yang tak tertandingi melalui tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). Namun, Gubernur menegaskan bahwa kebanggaan itu terasa hambar jika kekayaan tersebut tidak mendarat di tanah Maluku untuk menyejahterakan rakyatnya.
“Jika bicara suasana batin kami orang Maluku, provinsi ini sudah terlalu lama diekstrak sumber daya lautnya bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Namun, hingga detik ini, dampaknya belum signifikan bagi kesejahteraan masyarakat kami,” tegas Hendrik dengan nada bicara yang bergetar penuh kesungguhan.
Mandiri di Atas Kedaulatan Sendiri
Ketidakadilan yang dirasakan Maluku nampak nyata dalam regulasi saat ini. Perusahaan besar mengeruk hasil laut bertahun-tahun tanpa kewajiban hukum untuk melakukan bongkar muat di daratan Maluku.
Hal ini membuat nilai tambah ekonomi menguap begitu saja ke luar daerah, bahkan ke luar negeri.
Di sela-sela kegiatan tersebut, Gubernur Hendrik menambahkan sebuah visi yang jauh lebih berani dan visioner. Ia meyakini bahwa kunci kebangkitan Maluku terletak pada pengakuan penuh terhadap Hak Ulayat Laut.
“Seandainya hak ulayat laut Maluku dapat dikelola secara mandiri oleh daerah, saya pastikan seluruh biaya pembangunan di tanah ini akan teratasi dengan kekuatan kami sendiri.
Maluku tidak akan lagi menjadi penonton di rumah sendiri, dan kita akan segera melepas status sebagai salah satu provinsi dengan peringkat ekonomi terendah di Indonesia,” ujarnya penuh optimisme.
Panggilan untuk Bersatu
Dengan tatapan mata yang tajam mencerminkan keberanian pemimpin yang mencintai rakyatnya, Hendrik Lewerissa menutup pernyataannya dengan kalimat heroik yang membakar semangat siapapun yang mendengarnya. Ia memanggil seluruh elemen masyarakat untuk merapatkan barisan menuntut keadilan.
“Lautan kita adalah nafas kita, dan setiap tetes airnya adalah harga diri yang harus kita jaga. Saya tidak akan mundur selangkah pun untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat Maluku, karena kemakmuran adalah hak mutlak bagi mereka yang menjaga lautnya dengan darah dan air mata,” pungkasnya.










