sorotnasional.com
M.S Pelu GB
Ambon, Maluku – (20/2/2026) – Suasana di Ruang Terbuka Publik (RTP) Wainitu tampak berbeda pada Jumat pagi. Ratusan warga berkumpul bukan sekadar untuk berolahraga, melainkan untuk bertemu langsung dengan pemimpin mereka dalam program Wali Kota Jumpa Rakyat (WAJAR).
Momentum ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan refleksi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, dan Wakil Wali Kota, Ely Toisuta.
Komitmen Nyata bagi UMKM: Simbolisme di Pantai Wainitu
Di tengah kerumunan warga, Pemerintah Kota Ambon kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Secara simbolis, Bodewin Wattimena menyerahkan bantuan booth usaha kepada perwakilan pelaku UMKM di kawasan Pantai Wainitu.
Penyerahan ini bukan sekadar bantuan fasilitas, melainkan langkah strategis pemerintah dalam menciptakan ekosistem usaha yang sehat, bersih, dan tertata. Bodewin menegaskan bahwa UMKM adalah tulang punggung perekonomian daerah yang harus diperkuat agar memiliki tempat usaha yang lebih layak dan representatif.
“Kawasan Pantai Wainitu kita tata secara bertahap agar menjadi ruang publik yang memiliki nilai tambah ekonomi. Dengan booth yang seragam, kawasan ini akan semakin menarik bagi wisatawan, yang ujungnya meningkatkan pendapatan bapak dan ibu sekalian,” ujar Wattimena penuh optimisme.
Suara Tokoh Agama: Kepemimpinan yang Menyejukkan
Keharmonisan pasangan Bodewin-Ely ternyata tidak hanya dirasakan melalui kebijakan ekonomi, tetapi juga mendapat apresiasi mendalam dari para tokoh lintas agama di Kota Ambon yang menilai gaya kepemimpinan ini membawa keteduhan.
Tokoh Islam: “Kami merasakan adanya rasa keadilan dan kedekatan yang tulus. Kepemimpinan mereka sangat menyejukkan karena mampu merangkul semua golongan.”
Tokoh Kristen: “Sinergi antara Bapak Bodewin dan Ibu Ely mencerminkan kasih yang nyata dalam pelayanan publik. Ambon terasa lebih damai.”
Tokoh Hindu: “Kami sangat mengapresiasi ruang dialog yang selalu terbuka. Keharmonisan ini adalah pondasi keberlanjutan pembangunan.”
Tokoh Buddha: “Sifat rendah hati dan inklusif mereka memberikan rasa aman bagi kami untuk terus berkontribusi bagi kemajuan Ambon.”
Dialog Terbuka dan Solusi Nyata
Dalam forum WAJAR tersebut, sekat antara pejabat dan rakyat seolah runtuh. Bodewin Wattimena dengan saksama mencatat setiap keluhan, mulai dari sengketa lahan di Wainitu hingga harapan warga Rumah Tiga terkait penyediaan lapak UMKM yang lebih representatif—sejalan dengan aksi nyata pembagian booth yang baru saja dilakukan.
“WAJAR ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi wadah untuk mendengar langsung suara masyarakat dan mencari solusi bersama,” tegas Wattimena.
Kerendahan Hati dan Komitmen Tahun Kedua
Meski banyak capaian yang diraih, termasuk transformasi Pantai Wainitu menjadi kawasan ekonomi produktif, Bodewin Wattimena tetap menunjukkan sikap rendah hati. Ia menyadari bahwa perjalanan satu tahun barulah awal dari pengabdian.
“Kami menyadari masih ada kekurangan. Atas nama pribadi dan pemerintah, saya memohon maaf bila ada ekspektasi warga yang belum terpenuhi sepenuhnya. Kami berkomitmen meningkatkan apa yang sudah baik dan bekerja lebih keras lagi di tahun kedua,” ungkapnya tulus.
Wakil Wali Kota Ely Toisuta juga menyampaikan rasa syukurnya. “Terima kasih kepada keluarga di rumah yang telah memberikan dukungan penuh bagi saya bersama Bapak Wali Kota yang budiman, Bapak Bodewin, untuk melayani Ambon tercinta. Satu tahun ini berjalan sesuai harapan demi kebaikan umum,” tutur Ely.
Penutup yang Menyentuh
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Bodewin menyampaikan pesan penutup yang sarat akan makna spiritual dan kecintaan pada daerah, sembari mengajak para pelaku UMKM menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan yang telah ditata.
“Beta minta terima kasih banya kepada Tuhan yang telah membimbing kepemimpinan beta bersama Ibu Ely. Semua ini kami lakukan demi mengusung semangat: ‘Beta par Ambon, Ambon par samua’,” pungkasnya.










